Select Menu

sponsor

Buka Mata

Konsultasi Spiritual

Dakwah Wal Jihad

Mujahadah

Tazkiyatun Nafs

Tokoh

Sepilis

Tauhid

Jamaah Ya Ibad yang saya hormati, tetaplah zikrulloh dan husnuzhon (berprasangka baik) kepada Alloh.

Salah satu Isme yang wajib ditolak oleh muslim adalah SEKULARISME (SECULARISM). Sekulerisme merupakan produk olah fikir manusia. Dan manusia itu makhluk yang lemah. Sekulerisme bertentangan dengan Islam. Lantaran memang setiap isme, ide, faham, atau pemikiran yang tidak didasarkan pada apa yang diturunkan Alloh (dinulloh / Al Islam) adalah bentuk kekufuran yang harus diingkari, ditolak. 

Sekularisme adalah sebuah  pemikiran yang memisahkan antara bidang kehidupan pribadi dengan bidang-bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bagi penganut sekularisme kehidupan beragama tidak boleh dicampur-adukkan dengan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Agama hanya urusan masing-masing pribadi saja.  

Pada awalnya, sekularisme difahami sebagai isme (aliran pemikiran/pemahaman) yang mempercayai dan meyakini serta "mengimani" bahwa agama harus dipisah dari negara, sehingga dalam mengelola negara tidak boleh membawa simbol / atribut agama apalagi ajaran agama. Tetapi dalam prakteknya, sekulerisme telah menjadi suatu ideologi yang anti agama bahkan memusuhi agama.

Bagi penganut faham sekulerisme,  agama adalah urusan masing-masing pribadi. Agama dianggap tidak selaras dan tidak pantas ada pada bidang kehidupan yang lain. Agama harus dipisahkan dari aneka bidang kehidupan yang lain, sebab mereka meyakini bahwa jika agama turut campur dalam bidang-bidang kehidupan yang lain maka akan menyebabkan disintegrasi dan dis-harmoni. Begitulah hasil pemikiran mereka yang diperoleh berdasarkan pengalaman "kerajaan dan pemerintahan di-eropa masa lalu (sebelum revolusi perancis)".  

Sedangkan setiap muslim percaya, Islam itu agama yang sempurna. Semua bidang kehidupan manusia baik itu kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sudah ada aturannya di-dalam Islam. Sudah sempurna, ajaran Islam tak perlu lagi dimodifikasi. Tidak perlu ada lagi penambahan dan atau pengurangan. Kesempurnaan ini bisa terjadi karena Islam itu diturunkan oleh Sang Khalik Yang Maha Sempurna, Alloh Jalla Jalaluh, sebagai petunjuk bagi manusia. 

Oleh sebab itu jika ada yang berupaya menambahi atau mengurangi ajaran Islam, maka pelakunya kalau dia tidak bodoh tentulah orang yang sok tau, yang takabur, sombong. Menambah atau mengurangi ajaran Islam berarti mengubah kesempurnaan yang sudah Alloh turunkan dan menganggap Islam belum sempurna. Padahal Alloh sangat membenci orang-orang yang merubah apa yang sudah DIA turunkan, yang sok tau, yang takabur, sombong,  

Bagi seorang muslim, Islam merupakan petunjuk dan hukum yang harus dilaksanakan dalam tiap bidang kehidupan. Kehidupan beragama (baca : ber-Islam) terintegrasi sedemikian rupa sehingga tak dapat dipisahkan dari bidang kehidupan manusia yang lain. Setiap muslim akan menolak pemikiran, isme, dan ideologi yang bertentangan dengan Ajaran Islam. Bagi seorang muslim menerima pemikiran, isme, dan ideologi yang bertentangan dengan Ajaran Islam adalah bentuk kebodohan dan kesombongan. MUI (Majelis Ulama Indonesia) sudah membuat Fatwa Haram terkait sekulerisme ini. 

Mulai dari pribadi sampai bernegara, azas tunggal kehidupan seorang muslim adalah Islam. Orang yang beriman meyakini hidupnya akan selamat jika dua sumber ajaran Islam, Al Qur'an dan Al Hadits, dijadikan sebagai sumber dari segala sumber hukum. Tiada hukum selain Hukum Islam. Begitulah memang mestinya aplikasi tauhid dalam kehidupan manusia. Tidak ada ide, aturan, isme, pemikiran dan faham-faham lain selain Islam.

Fahamilah niscaya sampeyan beruntung.....
Terakhir, kembali saya ingatkan, teruslah sampeyan Zikrulloh dan Jangan Sampai Cacat Tauhid Sampeyan, lantaran Agama Islam adalah Agama Tauhid. Tidak ada ke-Islam-an tanpa Tauhid.

Assalamu ála manittabaál huda,
Guru Besar Ya Ibad

Di dalam kitab Ahkamul Janaiz, syaikh Nashiruddin Al Albani, mengumpulkan Tanda-Tanda Mati Syahid dari Al Qur’an dan Sunah shahihah, beliau mendapatinya ada 19 tanda, berikut ini ringkasannya:


Sesungguhnya Dzat Yang Mensyariatkan telah menjadikan beberapa tanda yang jelas untuk menunjukkan husnul khatimah – Allah Ta’alaa telah menetapkannya dengan kurnia dan kenikmatanNya – maka siapa saja yang meninggal dengan memiliki salah satu tandanya maka itu merupakan berita gembira:

Pertama:
Mereka yang dapat mengucapkan syahadat menjelang kematian sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadis yang shahih diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang ucapan terakhirnya Laa ilaaha illallah maka dia masuk surga ) ( hadits hasan).

Kedua:
Kematian yang disertai dengan basahnya kening dengan keringat atau peluh berdasarkan hadis Buraidah bin Hushaib radhiallahu anhu:

Dari Buraidah bin Khusaib radhiallahu anhu: ( bahwa ketika dia berada di Khurasan sedang membesuk seorang sahabatnya yang sakit dia mendapatinya sudah meninggal tiba-tiba keningnya berkeringat maka dia berkata: Allahu Akbar, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( kematian seorang mukmin disertai keringat dikeningnya ) ( hadits shahih ).

Ketiga:
Mereka yang meninggal pada malam jum'at atau siangnya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ( hadits dengan seluruh jalurnya hasan atau shahih )

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( tidaklah seorang muslim yang meninggal pada hari Jumaat atau malam Jumaat melainkan Allah Melindunginya dari siksa kubur ).

Keempat:
Meninggal dalam keadaan syahid dimedan perang sebagaimana firman Allah Ta’alaa :

Artinya: ( dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh dijalan Allah mati, tetapi mereka hidup diberi rezeki disisi Tuhan mereka (169) Mereka bergembira dengan kurnia yang diberikan Allah kepada mereka, dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang belum mengikuti mereka dibelakang janganlah mereka takut dan sedih (170) Mereka memberi khabar gembira dengan kenikmatan dari Allah dan kurniaNya dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan balasan bagi orang-orang beriman) (QS Ali Imran :169-171).


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( orang yang syahid mendapatkan enam perkara: diampuni dosanya sejak titisan darahnya yang pertama, diperlihatkan tempatnya dalam surga, dijauhkan dari siksa kubur, diberi keamanan dari goncangan yang dahsyat dihari kiamat, dipakaikan mahkota keimanan, dinikahkan dengan bidadari surga, diizinkan memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya) (hadits shahih).

Kelima:
Mereka yang meninggal ketika berjuang dijalan Allah (bukan terbunuh) berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "apa yang kalian nilai sebagai syahid diantara kalian ?" Mereka berkata: "Ya Rasulullah siapa yang terbunuh dijalan Allah maka dia syahid." Beliau berkata: "jadi sesungguhnya para syuhada umatku sedikit." Mereka berkata: "lalu siapa mereka Ya Rasulullah?" Beliau berkata: "barang siapa yang terbunuh dijalan Allah syahid, barangsiapa yang mati dijalan Allah syahid, barangsiapa yang mati karena wabah taun syahid, barangsiapa yang mati karena penyakit perut syahid, dan orang yang tenggelam syahid."

Keenam:
Mati kerana satu wabah penyakit taun, berdasarkan beberapa hadits diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: (wabah tha’un merupakan kesyahidan bagi setiap muslim). ( hadits shahih)

Ketujuh:
Mereka yang mati kerana penyakit dalam perut berdasarkan hadits diatas.

Kedelapan dan kesembilan:
Mereka yang mati karena tenggelam dan terkena runtuhan berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( syuhada ada lima: yang mati kerana wabah taun, karena penyakit perut, yang tenggelam, yang terkena runtuhan dan yang syahid dijalan Allah) ( hadits shahih).

Kesepuluh:
Mereka yang matinya seorang wanita dalam nifasnya disebabkan melahirkan anaknya:

Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjenguk Abdullah bin Rawahah dan berkata: beliau tidak berpindah dari tempat tidurnya lalu berkata: tahukah kamu siapa syuhada dari umatku? mereka berkata: terbunuhnya seorang muslim adalah syahid. Beliau berkata: ( jadi sesungguhnya para syuhada umatku, terbunuhnya seorang muslim syahid, mati karena wabah taun syahid, wanita yang mati kerana janinnya syahid [ditarik oleh anaknya dengan tali arinya kesyurga]) ( hadits shahih ).

Kesebelas dan kedua belas:
Mereka yang mati kerana terbakar dan sakit bengkak panas yang menimpa selaput dada ditulang rusuk, ada beberapa hadits yang terkait yang paling masyhur:

Dari Jabir bin ‘Atik dengan sanad marfu’ : ( syuhada ada tujuh selain terbunuh di jalan Allah: yang mati kerana wabah taun syahid, yang tenggelam syahid, yang mati kerana sakit bengkak yang panas pada selaput dada syahid, yang sakit perut syahid, yang mati terbakar syahid, yang mati terkena runtuhan syahid, dan wanita yang mati setelah melahirkan syahid) (hadits shahih).

Ketiga belas:
Mereka yang mati karena sakit Tibi berdasarkan hadits:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( terbunuh dijalan Allah syahid, wanita yang mati kerana melahirkan syahid, orang yang terbakar syahid, orang yang tenggelam syahid, dan yang mati karena sakit Tibi syahid, yang mati karena sakit perut syahid) (hadits hasan).

Keempat belas:
Mereka yang mati kerana mempertahankan hartanya yang hendak dirampas.Dalam hal itu ada beberapa hadits diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barang siapa yang terbunuh karena hartanya ( dalam riwayat: barang siapa yang hartanya diambil tidak dengan alasan yang benar lalu dia mempertahankannya dan terbunuh) maka dia syahid) (hadits shahih).

Kelima belas dan keenam belas:
Mereka yang mati kerana mempertahankan agama dan dirinya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barang siapa yang terbunuh kerana hartanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana keluarganya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana agamanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana darahnya syahid) ( hadits shahih).

Ketujuh belas:
Mereka yang mati dalam keadaan ribath (berjaga diperbatasan) di jalan Allah. Ada dua hadis dalam hal itu salah satunya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( ribath sehari semalam lebih baik dari berpuasa dan qiyamul lail selama sebulan, dan jika mati maka akan dijalankan untuknya amalan yang biasa dikerjakannya, akan dijalankan rezekinya dan diamankan dari fitnah) ( hadits shahih).

Kedelapan belas:
Mati ketika melakukan amal soleh berdasarkan hadis:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang mengucapkan: Laa ilaaha illallah mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk surga, barangsiapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga, barangsiapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga) ( hadits shahih).

Kesembilan belas:
Mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim karena memberi nasihat kepadanya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muththalib dan seseorang yang mendatangi penguasa yang zalim lalu dia memerintahkan yang baik dan melarang dari yang mungkar lalu dia dibunuhnya)

Demikianlah 19 Tanda-Tanda Mati Syahid yg diterangkan dalam Kitab Ahkamul Janaiz


Ya Ibad ~
NOTE : Konten blog ini diluar dari tanggung jawab dari Yayasan Al Mukhlasin 'Ibadurrohman.

Kunjungi pula :
1. Facebook Guru Besar Ya Ibad
3. Ya Ibad di Google Plus





Jamaah Ya Ibad Yang Kami Cintai,


Salah satu yang mesti diperjuangkan oleh aktivis muslim adalah dijadikannya UU dan Hukum Alloh (Dustur Illahi /Syariah Islam) sebagai SEBUAH sistem yg menjalankan negeri ini. Karena jika masih menggunakan sistem batil, sistem thoghut, hasilnya akan sama saja, yaitu tidak bisa menyelamatkan manusia di dunia apalagi di akhirat kelak.

Rosulullah SAW sendiri mencontohkan saat fase Mekkah. Ketika sistem Islam memang belum siap karena kekuasaan dan keamanan belum sepenuhnya di tangan umat Islam, Rosululloh tidak terlibat sama sekali dalam sistem hukum dan kepemimpinan jahiliyah saat itu. Bahkan saat dibujuk dan ditawarkan kepadanya kekuasan (tahta) untuk menjadi pemimpin oleh kafir Quraisy, Rosulullah menolak. Sebab beliau tahu kekuasaan yang diberikan itu bukan untuk menjalankan sistem Islam secara penuh, tetapi sekadar kompromi politik. Rosulullah tahu persis konsekuensi menerima bujukan itu berarti mencampurkan antar hak dan batil. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan prinsip Islam, bertentangan dengan Tauhid.

Sikap Rosululloh SAW sekaligus mencerminkan penolakan terhadap pragmatisme yang hanya memikirkan bagaimana kekuasaan dapat diraih. Padahal kalau menggunakan logika pragmatisme sekarang, apa salahnya Rosululloh mengambil kekuasaan saat itu, bukankah ada gunanya walaupun sedikit? Bukankah dengan kekuasan itu, kaum Muslim sedikit terlepas dari siksaan? Bukankah dakwahnya akan lebih lapang? Rosululloh SAW tetap berpegang pada prinsip perjuangan yang tidak mengenal kompromi. Meskipun Rosululloh dan sahabat-sahabatnya kemudian harus menghadapi ujian yang berat, berupa hinaan, cercaan, siksaan, hingga pembunuhan.

Itulah sikap seorang muwahid (orang yg bertauhid).

Lalu Bagaimana Dengan Sampeyan (Jamaah Ya Ibad) ?


Mulai sekarang, Sampeyan tidak boleh tutup mata dengan keadaan politik di negeri mana sampeyan berdomisili dan gejolak politik dunia. Supaya sampeyan bisa bertambah bijaksananya. Sikap berlepas diri dari politik, cuek, tidak mau tahu dengan urusan politik adalah sikap orang yg tidak ber-Islam secara kaaffah atau sekuler. Minimal, Tegaknya Syariat Islam di negeri ini wajib sampeyan perjuangkan.

Sampeyan sebaiknya tidak hanya memikirkan urusan Ya Ibad saja, yayasan sampeyan saja, kelompok sampeyan saja. Karena ini adalah penyakit asshobiyyah (fanatisme kelompok / golongan) yang wajib sampeyan hindari.

Mulailah dari sekarang, belajar untuk BUKA MATA melihat kondisi kaum muslimin.

Penjajah Belanda yang beragama Kristen, dan mereka itu adalah minoritas di Nusantara, terbukti telah bercokol mencengkeramkan kuku-kukunya di Nusantara selama 350-an tahun dengan aneka pelanggaran dan pemerkosaan hak-hak sipil. Berapa ribu ulama yang telah dibantai dengan cara diadu domba. Contohnya, di zaman Amangkurat I, pengganti Sultan Agung di Kerajaan Mataram Islam, di Jogjakarta, Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan Belanda, lalu para ulama tidak setuju, maka dikumpulkanlah para ulama itu di alun-alun (lapangan) sejumlah 5.000-an ulama, lalu dibantai. Sejarahnya sebagai berikut:

Amangkurat I membantai ribuan ulama


Pembantaian terhadap umat Islam kadang bukan hanya menimpa umat secara umum, namun justru inti umat yang dibantai, yaitu para ulama. Pembantaian yang diarahkan kepada ulama itu di antaranya oleh Amangkurat I, penerus Sultan Agung, raja Mataram Islam di Jawa, tahun 1646.

Peristiwa itu bisa kita simak sebagai berikut:

‘Penyebaran Islam menjadi benar-benar terhambat dan sekaligus merupakan sejarah paling hitam tatkala Amangkurat I mengumpulkan 5000 sampai 6000 orang ulama seluruh Jawa dan membunuhnya seluruhnya secara serentak.’[1]

Masalah ini ditegaskan lagi oleh Sjamsudduha pada halaman lain: ‘Penyebaran Islam pernah mengalami hambatan yang bersifat politis, yaitu adanya pergolakan intern dalam kerajaan-kerajaan Islam. Hambatan yang paling hebat dalam proses penyebaran Islam terjadi ketika Amangkurat I melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap lima sampai enam ribu ulama dan keluarganya. Penyebaran Islam di Jawa mengalami stagnasi untuk beberapa lama karena kehabisan muballigh, dan perasaan takut.’[2]

Dibantainya lima ribu sampai enam ribu ulama itu adalah masalah yang sangat besar. Sumber yang lain menyebutkan:

‘Amangkurat I, juga terkenal dengan nama Amangkurat Tegal Arum atau Tegal Wangi (karena mangkat di tempat tersebut) ialah putera Sultan Agung; naik tahta Mataram (1645) sebagai pengganti ayahnya. Berlainan dengan Sultan Agung yang bijaksana, Amangkurat I pada waktu hidupnya membuat beberapa kesalahan dan sebagai tanda kelemahan ia mengadakan perjanjian perdamaian dengan Kompeni Belanda  (1646). Tindakannnya ini ditentang oleh beberapa golongan, di antaranya para alim ulama, sehingga mereka ini disuruh bunuh.’[3]

Peristiwa besar berupa pembantaian terhadap ribuan ulama  itu tidak terjadi kecuali di belakangnya ada penjajah Belanda yang menyetir Amangkurat I.

Penjajah Belanda itu jumlahnya sedikit, minoritas, tetapi memegang kendali kepemimpinan, terbukti memainkan peran jahatnya terhadap inti umat Islam yaitu membantai ribuan ulama. Kelompok minoritas itu sampai membantai yang mayoritas saja tidak takut, apalagi kejahatan-kejahatan lainnya.

Di Zaman penjajahan menyusu penjajah, zaman merdeka bertingkah


Berikut ini sebagian data kejahatan minoritas kafir penjajah Belanda terhadap umat Islam dalam hal memberi dana sangat besar kepada Kristen dan Katolik, sebaliknya sangat kecil terhadap Islam.

Semenjak masa pemerintah kolonial Belanda, Katolik terutama  Protestan memperoleh dana bantuan yang besar sekali, tidak demi­kian dengan Islam. Sebagai contoh pada tahun 1927 alokasi bantuan  untuk modal dalam rangka pengembangan agama, adalah sebagai  berikut:

Protestan memperoleh      € 31.000.000

Katolik memperoleh          € 10.080.000

Islam memperoleh            €       80.000.[4]



Dana besar dari penjajah Belanda itu digunakan oleh orang  Kristen dan Katolik untuk membangun gedung-gedung, sekolah, rumah  sakit dan sebagainya. Sedang ummat Islam tidak punya uang. Pada  gilirannya, anak-anak orang kafirin itu telah makan sekolahan  sedang anak-anak Muslimin belum, kecuali sedikit, maka ketika  merdeka, orang-orang kafirin Nasrani itu masuk ke pos-pos pemer­intahan di mana-mana. Padahal mereka itu ogah-ogahan untuk merde­ka, lebih enak menyusu pada penjajah sesama kafir. Jadi, yang  berjuang mengorbankan nyawa dan harta untuk melawan penjajah  kafir itu orang Islam, namun ketika merdeka, penyusu Belanda itu  justru yang leha-leha duduk di kursi-kursi pemerintahan.

Keadaan itu makin didukung oleh sikap pemerintahan Soekarno  yang  bersama PKI (Partai Komunis Indonesia) mempecundangi ummat  Islam. Senjata ampuh Soekarno dan PKI adalah istilah DI (Darul  Islam) yang harus dihabisi sampai seakar-akarnya. Di situ kafirin  Nasrani bersorak kegirangan karena ummat Islam dikuyo-kuyo  (dipecundangi, disengsarakan). Di masa Soeharto berkuasa 32 tahun  pun ummat Islam dikuyo-kuyo lagi oleh Soharto, Ali Moertopo,  Benny Moerdani, Sudomo (sebelum masuk Islam) dengan tunggangan  Golkar. Sampai hanya untuk bicara agama saja harus pakai SIM  (Surat Izin Muballigh). Dan ummat Islam banyak dibantai di mana- mana, di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Haur Koneng Jabar dan sebagainya.  Lagi-lagi kafirin Nasrani bersorak sorai.

Mereka yang sorak sorai –selama umat Islam dibantai, dikuyo-kuyo dan didhalimi– itu kini diusulkan oleh Dawam Rahardjo (pembela aliran-aliran sesat yang merusak Islam seperti Ahmadiyah, Lia Eden, Sepilis –sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme— dan semacamnya)  untuk memimpin Departemen Agama. Padahal diadakannya Departemen Agama itu sendiri menurut sejarahnya adalah hadiah bagi umat Islam, karena para ulama dan umat Islam telah berjuang mati-matian untuk meraih kemerdekaan.

Bagaimana kira-kira kalau usulan Dawam Rahardjo itu terlaksana?


Kalau toh penyengsaraan terhadap umat Islam tidak sampai tingkat pembantaian, maka seandainya dari kalangan Kristen memimpin Departemen Agama, lakon nenek moyangnya dalam ideology dan agama, yaitu penjajah Belanda, bisa diterapkan pula. Yaitu dana untuk Nasrani 41 juta Gulden, sedang untuk Islam hanya 80 ribu Gulden saja.

Tidak usah jauh-jauh ke zaman Belanda, di saat pemerintahan Orde Baru pimpinan presiden Soeharto, ketika Benny Moerdani yang Nasrani itu dijadikan Menteri Pertahanan dan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata, ternyata ratusan umat Islam dibantai di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 12 September 1984. Diperkirakan ratusan Muslimin dibantai, diangkut bertruck-truck entah ke mana dikuburkannya, tak jelas.

Kemudian ketika TB Silalahi dari Nasrani pula dijadikan Menteri Aparatur Negara, maka membuat kebijakan yang mengarah pada pembunuhan madrasah-madrasah sore hari, dengan cara menambah lama bersekolah di sekolah-sekolah umum sampai agak sore, sehingga mengakibatkan rontoknya madrasah-madrasah sore hari. Masih pula ditambah dengan menghapus pengadaan guru-buru negeri untuk sekolah swasta, yang artinya adalah membunuh madrasah-madrasah (swasta) se-Indonesia. Hingga kini setelah tahun 2000 pun dampaknya makin memprihatinkan.

Madrasah-madrasah (swasta) mengalami koleps, rata-rata dalam keadaan megap-megap, karena kekuarangan guru. Untuk seluruh Indonesia diperkirakan butuh 200.000-an guru madrasah, dan khabarnya sampai sekarang kalau Departemen Agama RI mengajukan kepada pemerintah untuk mengadakan tenaga guru itu senantiasa ditolak, kecuali sangat sedikit. Sebaliknya, TB Silalahi walau sudah tak jadi menteri masih aktif dalam kenasraniannya secara nasional, misalnya jadi ketua panitia natalan tingkat nasional, yang mampu menggiring para pejabat Muslim sampai tingkat presiden untuk hadir di upacara bernatalan ria, satu hal yang telah diharamkan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) bagi umat Islam. Seakan fatwa MUI itu dianggap angin lalu oleh para pejabat Muslim. Padahal, mereka (pejabat-pejabat Muslim) itu ketika sebelum naik jabatan biasanya mendekat-dekat kepada umat Islam, paling kurang dengan cara hadir di masjid-masjid,guna meraih simpati umat Islam, misalnya. Terkutuklah mereka. Agama dijadikan alat untuk meraih jabatan.

Betapa bedanya antara pejabat yang Muslim dengan yang kafir. Kalau pejabat kafir, sampai sudah tidak menjabat pun masih gigih menjajakan kekafirannya, seperti menjadi panitia upacara nasional kekafiran mereka, dan mampu menggiring pejabat yang masih aktif untuk hadir di acara kekafiran mereka. Sebaliknya, pejabat-pejabat Muslim, ketika masih menjabat saja sudah lupa terhadap Islam dan umat Islam. Justru biasanya mereka ikut-ikutan ke acara-acara kafir. Kemudian setelah mereka tidak punya jabatan lagi, baru sebagian mendekat-dekat lagi ke umat Islam, tetapi sudah tidak ada daya apa-apa, hanya sekadar mengisi waktu menunggu umur. Itu saja sering-sering hanya berfungsi untuk mengendur-ngendurkan perjuangan Islam, dengan alasan persatuan dan kesatuan, misalnya; lalu cenderung ke pluralisme agama, menyamakan semua agama, atau paling tidak ya sekuler. Yang nampak di permukaan biasanya seperti itu, bila kebetulan tidak tersangkut perkara korupsi dan semacamnya yang mengakibatkan sakit atau malahan meninggal sebelum sempat diadili.

Kalau ketika jadi pejabat dikenal galak, atau pelit, atau lebih dari itu justru tukang peras, biasanya ketika pensiun, mereka minggat,  menjauh dari tempat semula. Entah dengan cara membeli tanah di kompleks yang suasananya dianggap aman, atau sekadar ndompleng  ke anak atau menantu, bila perlu. Perkara nasib mereka di akherat seperti apa, itu urusan Allah subhanahu wata’ala terhadap mereka. Kalau di dunia sudah banyak mendhalimi manusia, bahkan agama Allah subhanahu wata’ala, maka betapa ngerinya. Maka mumpung masih hidup, sebaiknya bertaubat, memperbanyak amal sholih, ikhlas lillahi Ta’ala, agar husnul khotimah.

Kembali kepada sikap Dawam Rahardjo, perlu diingatkan mengenai kegigigihan orang kafir tersebut. Yang telah dikemukakan itu tadi, orang-orang Nasrani sampai sebegitu jauhnya dalam memecundangi Islam dan umat Islam. Padahal mereka itu tidak langsung memegang jabatan yang berkaitan dengan agama Islam. Bagaimana pula seandainya mereka yang Nasrani itu menjadi menteri agama? Tidak jadi menteri agama saja, terbukti pencelakaan terhadap umat Islam sudah sedemikian drastisnya. Lha kok Dawam Rahardjo yang dijuluki sebagai cendekiawan Muslim malahan sama sekali buta terhadap lakon jahat orang Nasrani yang telah ditusukkan kepada umat Islam se-Indonesia, padahal jelas-jelas di depan mata.

Sebaiknya Dawam Rahardjo membuka mata, melihat sejarah, agar ada sedikit gambaran tentang betapa mengenaskannya (memprihatinkannya) kondisi umat Islam akibat disengsarakan oleh kelompok minoritas anti Islam.

Kembali ke kekejaman Belanda (minoritas tapi menjajah) dalam membunuhi umat Islam. Peristiwa Perang Paderi selama 13 tahun (1824-1837M), antara Islam (Salaf)[5] yang dipimpin Imam Bonjol dan kaum adat (Islam tradisional) di Sumatera Barat dicampur tangani Belanda. Belanda memihak kaum adat. Kaum adat berdebat sesamanya. Sebagian kaum adat memihak ke Imam Bonjol, dan sebagian menyerah terhadap Belanda. Lalu Imam Bonjol sendiri ditipu oleh Belanda dengan cara pura-pura akan diadakan perdamaian, namun hanya menipu untuk menangkapnya, kemudian membuangnya ke Betawi, ke Cianjur Jawa Barat, lalu ditahan di Ambon, dipindah ke Menado, dan wafat di sana setelah 10 tahun di Menado, 6 November 1864.[6]

Belum lagi perang Aceh, Belanda dengan dipanas-panasi oleh penasihatnya, Snouck Hurgronje bahwa satu-satunya jalan hanyalah berlaku keras terhadap para ulama dan umat Islam, lalu dibantailah para ulama di Aceh, beserta umat Islam.

Sikap Snouck terhadap Islam, Ulama, dan Muslimin


Fakta sejarah menunjukkan kedustaan Snaouck Hurgronje dan rencana penyamarannya bukan tidak mungkin menunjukkan bahwa masuk Islamnya di Jeddah serta hubungannya dengan orang-orang Aceh di Mekkah al-Mukarramah pun termasuk perbuatan pura-puranya. Namun, dusta tersebut telah memberinya jalan memasuki daerah Aceh, tempat dia akan mengumpulkan informasi-informasi yang dapat memberi saham dalam mewujudkan pemecahan masalah atas daerah Aceh bagi Belanda. Untuk itu Snouck Hurgronje menerima pekerjaan di Batavia.

Di Batavia, dia mulai mengumpulkan informasi tentang pengajaran Islam di sekolah-sekolah Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta tentang apa yang dinamakan hierarki keagamaan Islam yang berkali-kali disangkal keberadaannya oleh Snouck Hurgronje. Pada dasarnya, Snouck benar karena di dalam Islam tidak dikenal sistem hierarki sebagaimana dalam  Katolik atau Kristen pada umumnya. Kemudian datang perintah untuknya agar melaksanakan tugas resmi yang telah digambarkan dalam rekomendasi-rekomendasi sebagai sesuatu yang sangat rahasia. Dalam perjalanan mata-matanya itu, orang-orang Aceh, termasuk beberapa ulama, menaruh kepercayaan penuh kepadanya.

Mereka memberi sambutan hangat dan menerima kedatangannya. Laporan-laporannya (kepada pemerintah Belanda, pen) berisi kebencian, dendam, pemutarbalikan, dan kebohongan, khususnya terhadap para ulama yang dianggap sebagai kendala penghambat tunduknya daerah Aceh kepada pemerintah Belanda. Para ulama merupakan motor penggerak spitritual masyarakat dalam membela daerah itu sehingga di dalam laporan-laporan spionasenya, para ulama itu berpuluh-puluh kali dijuluki gerombolan ulama. Selain itu, diapun menyampaikan usul kepada pemerintah kolonial untuk menempuh cara politik kekerasan dan penumpasan terhadap para ulama dengan menyatakan:

 “Sesungguhnya musuh utama dan yang giat adalah para ulama dan para petualang yang menyusun gerombolan-gerombolan yang kuat. Sekalipun jumlah mereka sedikit dan tumbuh di antara lapisan-lapisan masyarakat yang bermacam-macam, mereka mendapat tambahan dari sebagian penduduk dan pemimpin-pemimpinnya. Tidak mungkin akan diperoleh manfaat dalam perundingan dengan partai musuh ini karena akidah dan kepentingan pribadi mereka mengharuskan mereka untuk tidak tunduk, kecuali dengan penggunaan kekerasan terhadap mereka. Sesungguhnya persyaratan yang paling mendasar untuk mengembalikan peraturan di daerah Aceh haruslah mengkaunter para ulama dengan kekerasan sehingga ‘ketakutan’ menjadi faktor yang menghalangi orang-orang Aceh untuk bergabung dengan pemimpin-pemimpin gerombolan agar terhindar dari bahaya. Menurut pendapat saya, mesti dipersiapkan rencana mata-mata yang efektif dan terorganisasi untuk memata-matai Tuanku Kuta Karang (pemimpin ulama pada tahun 1892) dan gerombolannya. Pasti akan ada hasil awalnya. Biarpun saya tidak mampu menjelaskan seluruh rinciannya, namun saya berani berkata bahwa pekerjaan mata-mata itu adalah suatu kemungkinan.” [7]

Demikianlah faktanya. Snouck telah melibatkan dirinya untuk kepentingan penjajahan dengan bukti pernyataan dan laporannya kepada Jendral Van Houts untuk memerangi kaum muslimin di seluruh wilayah jajahan Belanda. Dengan kata lain ia mengusulkan untuk menggunakan kekerasan dalam menumpas kaum muslimin. Karena itu Jendral tadi mendapat julukan “pedang Snouck yang ampuh” karena keberhasilannya dalam memerangi umat Islam.

Di samping itu Snouck Hurgronye juga banyak membantu dalam pembinaan kader missionaris Belanda dan membuka sekolahan untuk mengkristenkan muslimin di seluruh wilayah jajahannya.

Terdapat fakta lain pula bahwa seorang tokoh missionaris kondang dan sangat disegani di kalangan kaum orientalis yang bernama Hendrick Kraemer adalah murid Snouck Hurgronje, dari tahun 1921 hingga tahun 1935. Hubungan di antara guru dan murid terus berkesinambungan tanpa putus. Snouck Hurgronje wafat pada tahun 1936.[8]

Dr Van Koningsveled  berkata: “Tidak terputus surat menyurat antara Snouck Hurgronje dan muridnya, Hendrik Kraemer, misisionaris terkenal dan berpengaruh dalam lingkungan  aktivis kristenisasi dari tahun 1921 sampai dengan 1935. Menurut penjelasan Boland, buku Hendrik Kraemer, Misi Kristen di Dunia Non Kristen[9]  mengungkapkan dengan jelas bahwa orang-orang Kristen mempunyai rencana untuk mengkristenkan dunia, khususnya Indonesia. Mereka bertujuan menundukkan dunia Islam.[10] Bahkan, Kreamer membandingkan Islam dengan Nazi.[11]

Zaman "merdeka" (tanda kutip) , minoritas pun membantai umat Islam


Bahkan di zaman merdeka dan setelah tahun 2000 pun Indonesia yang mayoritas Muslim ini, kaum minoritas membantai umat Islam di Poso Sulawesi, juga di Ambon. Tibo, otak pembantaian terhadap umat Islam di Poso, dikabarakan mengaku didoakan oleh gereja ketika mau melakukan pembantaian itu.[12]  Majalah Sabili No 22, Th XIII, 18 Mei 2006/ 20 Rabi’ul Akhir 1427H memberitakan sebagai berikut:

Gereja acap kali disebut-sebut dalam berbagai kerusuhan di tanah air. Keterlibatan gereja pula yang disebut tervonis mati Tibo baru-baru ini.

Menjelang eksekusi mati, panglima pasukan Merah saat konflik Poso berkecamuk beberapa waktu lalu ini, mengungkap keterlibatan Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). GKST pimpinan pendeta Damanik yang berpusat di Tentena ini, menurut Tibo terlibat dalam pembantaian umat Islam Poso.

Menurut Tibo, (pihak gereja) GKST memberikan dukungan moril dan lainnya kepada pasukan Merah yang hendak menyerang kaum Muslimin Poso. Bahkan, lanjut Tibo, para pendeta mendoakan mereka dengan upacara ala Kristen di Gereja tersebut.

Hasilnya? Sebuah tragedy kemanusiaan yang di luar batas kewajaran manusia. Pembantaian dan penganiayaan terhadap umat Islam secara biadab telah dilakukan pasukan Merah. Fakta ini terungkap dari keterangan sejumlah saksi saat persidangan Tibo beberapa waktu yang lalu.

Kesadisan pasukan Kelelawar pimpinan Tibo terhadap kaum Muslimin terungkap di persidangan. Menurut salah satu saksi, pembina pesantren Walisongo Poso, Ustadz Ilham, ia melihat rekannya dibacok pasukan Merah pimpinan Tibo, sebelum ia nekad loncat dari mobil dan meloloskan diri.

Sebelumnya,  Ustadz Ilham bersama 28 orang lainnya disuruh buka baju. Selanjutnya tangan diikat satu persatu dengan sabut kelapa, tali nilon dan kabel. Kemudian digiring lewat hutan tembus desa Lempomawu. Rombongan Ustadz Ilham berjalan ke desa Ranononco dan ditampung di sebuah baruga.

Di sanalah mereka disiksa dalam keadaan berbanjar dua barisan. Selanjutnya ikatan tangan ditambah sampai bersusun tiga. Badan Ustadz Ilham diiris, ditendang dan dipukul dengan berbagai alat. Tak puas dengan itu, mereka menyirami umat Islam dengan air panas selama dua jam.

Kebringasan pasukan Merah itu juga diungkap saksi lainnya, Tuminah. Menurut kesaksian Tuminah, pasukan Merah mengikat mereka dengan tali dan memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Di bilik sebuah sekolah, Dominggus meminta para Muslimah melepas bajunya dan disuruh berputar-putar di depannya.

Jauh sebelumnya, keterlibatan Gereja juga disebut-sebut saat penyerangan kaum Kristen terhadap umat Islam Maluku di akhir tahun 1999. Sehari setelah Natal, Ahad (26/12 1999), dengan amat tiba-tiba, massa Kristen menyerang dan membantai kaum Muslimin di Kecamatan Tobelo, Maluku Utara.

Seorang saksi menceritakan, pembantaian yang menyayat hati umat Islam tersebut. Menurut ceritanya, sebelum penyerangan biadab itu terdengar suara lonceng Gereja saling bersahutan serta suara gaduh tiang listrik, bak pertanda kesiapan untuk menyerang.



Seketika, massa Kristen yang membawa berbagai senjata tajam sudah mengepung dan membombardir Masjid Jami’ tempat berlindungnya ribuan kaum Muslimin. Masjid Jami’pun diguyur bensin dan dengan cepat api menjilat tembok-temboknya.

Jerit tangis anak-anak kecil bayi yang kepanasan dan istighfar para Muslimah terdengar bersahut-sahutan. Yang mencoba keluar masjid langsung dibantai. Kurang lebih 750 orang kaum Muslimin yang berada di dalam masjid tersebut terbakar hidup-hidup, hingga mengeluarkan aroma daging terbakar.[13]

Sejumlah pihak pun mensinyalir keterlibatan Gereja di sejumlah daerah konflik lainnya. Sebut misalnya, kerusuhan Timor Timur (saat masih masuk wilayah Indonesia). Ketika itu, kepala Kanwil Departemen Agama di Timor Timur seorang Katolik. Ternyata karyawannya yang beragama Islam, hanya mau berkhutbah Jum’at di masjid saja dilarang oleh Kakanwilnya yang Katolik itu. Pengakuan karyawan Kanwil Departemen Agama Timor Timur bahwa dirinya dilarang oleh Kakanwilnya untuk berkhutbah di masjid itu penulis dengar langsung ketika penulis bersama rombongan wartawan Islam dari Jakarta berada di Dilly Timor Timur, waktu masih jadi wilayah Indonesia. Nah, kalau menteri agamanya dari Katolik atau Kristen, jenis-jenis pembantaian terhadap umat Islam dan pelarangan-pelarangan khutbah di masjid-masjid bagi karyawan Departemen Agama, apakah tidak dilancarkan, bahkan digalakkan? Dawam Rahardjo perlu berpikir ulang, kalau memang masih mengaku Muslim, atau berpikiran obyektif.

Tirani minoritas


Apakah itu tidak pernah terdengar di telinga seorang professor yang menyandang gelar cendekiawan Muslim seperti Dawam Rahardjo? Sedang tidur di mana dia? Selain itu, apakah tidak pernah mendengar bahwa dalam perpolitikan di Indonesia selama masa Orde baru di bawah rezim Soeharto, dalam tempo 25 tahun dari 32 tahun kekuasaannya sering diistilahkan adanya tirani minoritas, lantaran kebijakan Soeharto mengikuti pihak minoritas dengan CSIS-nya dan di bidang kekuasaan adalah Benny Murdani-nya? Kemudian setelah ada kerenggangan antara Benny dan Soeharto, lantas terjadilah aneka kerusuhan di daerah-daerah Indonesia bagian timur yang di sana campur antara Muslim dan Kristiani, maka umat Islam dibantai, dibakari rumahnya, tokonya, dan bahkan masjid-masjidnya seperti yang terjadi di Timor Timur, Flores dan lainnya. Apakah Dawam tak pernah dengar? Bagaimana ketika pegawai Departemen Agama saja tidak boleh khutbah di masjid oleh atasannya ketika atasannya orang Katolik seperti yang terjadi di Timor Timur, padahal secara penduduk Indonesia, Katolik adalah minoritas. Apakah Dawam tak pernah dengar? Bagaimana misalnya menteri agamanya itu orang Kristen, lalu melarang pegawai Departemen Agama berkhutbah di masjid, sebagaimana Kepala Kanwil Depag Timor Timur waktu masih jadi wilayah Indonesia melarang pegawainya berkhutbah di masjid yang sudah ada, bahkan untuk didirikan musholla saja sulit di sana? Masih banyak lagi tentunya.

 Bukan hanya di wilayah yang banyak orang Kristennya. Di zaman Soeharto, saat berlangsung tirani minoritas, maka pencekalan terhadap khotib-khotib dan muballigh pun berlangsung, hingga ada istilah SIM (Surat Izin Muballigh). Daftar apa yang disebut muballigh-muballigh ekstrim pun beredar. Hingga muballigh digagalkan untuk berkhutbah hari raya seperti Pak Dr Deliar Noer yang digagalkan hingga masuk berita di Koran pun, Dawam tentunya dengar. Kenapa? Karena umat Islam dikuyo-kuyo oleh kebijakan yang memihak pada minoritas Kristen.

Nah, sekarang ini, rupanya Dawam justru menjadikan dirinya rela, suka ria, menjadi orang yang tidak perlu ditekan-tekan oleh minoritas Kristen, justru mencadangkan diri untuk di bagian depan sebagai orang yang rela untuk ditepuki oleh orang Kristen. Makin ramai tepuk sorak orang Kristen, makin bersemangatlah Dawam. Padahal, nanti kalau meninggal dunia, Pak Dawam apakah akan dirumat oleh orang Kristen? Apakah yang memandikan, mengkafani, mensholati, dan memasukkan ke liang kubur nanti diharapkan dari orang-orang Kristen? Dan misalnya masih percaya terhadap doa, apakah lebih baik yang mendoakan mayat Dawam nanti orang Kristen dengan nyanyian-nyanyian kemusyrikannya?

 Kalau Dawam Rahardjo istiqomah dengan pendapatnya, maka logika yang dapat dipetik: Lebih baik nanti yang merawat jenazah saya adalah dari pihak yang minoritas, misalnya Kristen. Karena mereka yang minoritas itu nanti tidak akan berani sewenang-wenang terhadap jasad saya. Berbeda dengan kalau yang merawat sampai menguburkan jasad saya itu dari pihak yang mayoritas, yakni kaum Muslimin, mereka pasti akan berbuat sewenang-wenang, karena merasa mayoritas, dan tidak dapat dikontrol dalam hal merawat jasad saya. Jadi saya lebih memilih untuk dirawat oleh orang Kristen dari proses perawatan jenazah saya sampai penguburannya. Kalau dapat, justru yang paling minoritas, yaitu orang yang tidak beragamalah yang harus merawat sampai menguburkan jenazah saya. Karena kalau yang paling minoritas, maka tidak mungkin akan berani untuk berbuat sewenang-wenang terhadap jasad saya. Berbeda dengan kalau yang mayoritas. Jadi saya lebih memilih untuk dirawat jenazah saya  oleh orang yang tidak beragama, daripada yang beragama.”  Itu logika yang pas dari ungkapan-ungkapan Dawam Rahardjo yang telah terlontar sebelumnya, bila dirangkaikan dengan kematiannya, kapan-kapan. (haji).

[1] Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam- Katolik- Protestan di Indonesia, Usaha Nasional, Surabaya, 1987, halaman 119.

[2] Ibid, halaman 167.

[3] Prof. Mr, AG. Pringgodigdo –Hassan Shadily MA, Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1977, halaman 45.

[4] Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam - Katolik- Protestan di Indonesia,_Usaha  Nasional Indonesia, cet II, 1987, hal 129.

[5] Sebelum Imam Bonjol datang dari Makkah, sudah berlangsung pemurnian Islam di Minangkabau menjelang akhir abad 18, dengan dibereskannya tarikat-tarikat Syatariyah dan sebagainya ke arah lebih mengikuti syara’. Lalu datanglah Imam Bonjol dan tokoh-tokoh yang baru pulang dari Makkah dan mengikuti manhaj salaf, sesuai dengan Islam yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diwarisi para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan diteruskan ilmunya serta penyebarannya oleh para ulama. Kaum Padri (pimpinan Imam Bonjol) itu mengganti penghulu-penghulu adat dengan qodhi (hakim agama) dan imam. Dengan ini, Imam Bonjol dan jama’ahnya mengubah system social adat. Tapi ini hanya berlangsung 3 tahun. (Sistem Imam Bonjol tentunya system Islam, hukum waris ya cara Islam. Sayangnya, hanya berlangsung 3 tahun, kembali ke adat lagi. Sampai  buku ini ditulis, tahun 2006, walaupun masyarakat Sumatera Barat atau Minangkabau itu beragama Islam, tetapi dalam hal warisan harta orang yang meninggal dunia, memakai cara adat, khabarnya, tidak memakai hukum Islam).

Sesudah 3 tahun itu imam tetap ada, tetapi yang berkuasa adalah penghulu adat, bukan imam.  Tahun 1827, Belanda mulai ikut-ikutan campur tangan. Imam Bonjol mengajak para penghulu adat untuk menentukan sikap. Tetapi para penghulu adat berdebat  sesamanya, ada yang mau perang, ada yang mau menyerah. Imam Bonjol akhirnya pergi – dia tidak kuasa…

Lalu Belanda menipu Imam Bonjol dengan liciknya, yaitu diajak berunding, tetapi ditangkap, 29 Oktober 1837, lalu diasingkan. Mula-mula di Bukittinggi, lalu Cianjur, Ambon, dan Manado. (Lihat Leksikon Islam, Pustaka Azet Perkasa, Jakarta 1988, jilid 2, halaman 561).

[6] (lihat Ensiklopedi Umum, Pringgodigdo, 1977, halaman 444).

[7] K. Van de Maaten, Snouck Hurgronje en de Atjeh Oorlog, Leiden, 1948, hal 95, dikutip Dr Qasim Assamurai, Al-Istisyraqu bainal Maudhu’iyati wal Ifti’aliyah, terjemahan Prof. Dr Syuhudi Isma’il dkk, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, GIP, Jakarta, cetakan pertama 1417H/ 1996M, hal  158.

[8] Dr Ahmad Abdul Hamid Ghurab, ru’yah Islamiyyah lil Istisyraq, terjemahan AM Basalamah, Menyingkap Tabir Orientalisme, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta,  I, 1992,  hal 97-98.

[9] Hendrik Kraemer, the Crisitian Message in a non-Christian World, London, 1938, edisi kedua, 1947.

[10] B.J Boland, the Strugle of Islam in Modern Indonesia’s  Gravenhage, 1970, hal 236, dikutip Qasim Assamurai hal 164.

[11] Kraemer, op cit, hal 353, bandingkan Boland,  op cit,  hal 240, no 146, dikutip Qasim, ibid, hal 164.

[12] To:insistnet@yahoogroups.com

            From:”Syahril” <Syahril_CW@cni.co.id  Add to Address Book

            Date:Wed, 12 Apr 2006 17:43:32 +0700

            Subject:[INSISTS] Fw: Tibo pahlawan HAM?


 —– Original Message —–



 Sent: Wednesday, April 12, 2006 9:35 AM


Ya Ibad ~
NOTE : Konten blog ini diluar dari tanggung jawab dari Yayasan Al Mukhlasin 'Ibadurrohman.

Kunjungi pula :
1. Ya Ibad Internasional
2. Facebook Guru Besar Ya Ibad
3. Ya Ibad di Google Plus
Ya Ibad ~ Sesungguhnya Islam bukan semata2 aqidah dalam hati, sehingga sampeyan puas dengan menceritakannya dengan lisan & membelanya dengan pena & argumentasi. Kemudian sampeyan berlalu sambil berkata, "Barangsiapa suka hendaklah beriman & barangsiapa suka hendaklah kafir." (Al Kahfi 29)

Tidak....tidak cukup sampai disitu!
Dia adalah syariat Alloh yg datang utk mengendalikan kehidupan seluruh makhluqNya. Karena itu, sampeyan tdk cukup utk berkhutbah / memberi nasehat dengan mengatakan "Inilah aqidah kita yg kita bela!" lantas stagnan sampai disini.

Tetapi sampeyan harus bertolak membawa agama ini, mendakwahkannya dengan lisan / dg hikmah, menjelaskannya dengan keterangan serta berjihad dengan pedang. Adapun berdakwah dengan lisan, keterangan & cara2 yg bijaksana adalah tertuju kepada hati & otak. Jika ia beriman, maka silakan beriman & itu bagus sekali; jika ia enggan beriman maka harus mau membayar jizyah, hidup hina & membiarkan berlaku hukum islam padanya dalam negara; tetapi kalau dia menolak & menyombongkan diri, menentang & tdk menyerahkan kepemimpinan kepada kaum muslimin maka alternatifnya adalah perang sehingga thaghut2 ini menyingkir.Setelah itu barulah sampeyan berkata, "Barangsiapa suka hendaklah beriman& barangsiapa suka hendaklah kafir" (Al Kahfi 29)

Itulah tujuan jihad dalam Islam, "Supaya jangan ada fitnah & supaya agama ini se-mata2 hanya untuk Alloh" (Al Anfal 39)

Dan inilah tahapan akhir ketika hukum2NYA telah baku, "Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya" (At Taubah 36)

''Perangilah orang2 yg tdk beriman kepada Alloh& tidak pula kepada hari kemudian& mereka tdk mengharamkan apa yg diharamkan Alloh & RosulNya & tidak tidak beragama dengan agama yg benar (agama Alloh), yaitu orang2 yg diberikan Al Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (At Taubah 29)

Meski sebenarnya Islam tdk memerlukan dikemukakannya alasan2, mengapa ia berperang?! Tetapi sampeyan mengingatkan mereka karena sebagian orang telah malu menyebut kata jihad, seakan jihad adalah noda kehinaan di dalam agama yg harus dihapuskan demi menyenangkan kejahiliyahan &  tatanan kufur ini.

Sungguh, sejarah benar2 menjadi saksi & mencatat pelajaran penting ini:

* Jika kalian tdk memerangi mereka dg KEBENARAN maka musuh kalian akan memerangi kalian dg KEBATHILAN.
* Jika kalian tdk tampil didepan maka mereka yg akan tampil.
* Jika kalian tdk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya walaupun dengan pedang maka mereka akan mengeluarkan kalian dari cahaya kepada kegelapan.

Itulah pelajaran sejarah. Itulah dendam musuh Islam yg terpendam. Semua ini menggambarkan keharusan jihad fii sabilillah

Silahkan sampeyan baca juga :

Hukum Jihad Fii Sabilillah

Urgensi Kufur Kepada Thoghut

Menerapkan Hukum / UU Selain Dengan Syariat Alloh

Wajib Menerapkan Syariat Islam

 NOTE : Konten blog ini diluar dari tanggung jawab dari Yayasan Al Mukhlasin 'Ibadurrohman.

Kunjungi pula :
1. Facebook Guru Besar Ya Ibad
2. Ya Ibad di Google Plus
PERTANYAAN : 
Apa Hukumnya Jihad di dalam Islam ?

JAWAB : 
Hukum Jihad fi sabilillah secara umum adalah Fardhu Kifayah, jika sebagian umat telah melaksanakannya dengan baik dan sempurna maka sebagian yang lain terbebas dari kewajiban tersebut. Alloh SWT berfirman:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS at-Taubah 122).

Jihad berubah menjadi Fardhu ‘Ain jika:

1. Muslim yang telah mukallaf sudah memasuki medan perang, maka baginya fardhu ‘ain berjihad dan tidak boleh lari.

”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” 

(QS al-Anfal 15-16).

2. Musuh sudah datang ke wilayahnya, maka jihad menjadi fardhu ‘ain bagi seluruh penduduk di daerah atau wilayah tersebut .

”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS at-Taubah 123)
3. Jika pemimpin memerintahkan muslim yang mukallaf untuk berperang, maka baginya merupakan fardhu ‘ain untuk berperang. Rasulullah SAW bersabda:

”Tidak ada hijrah setelah futuh Mekkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Dan jika kamu diperintahkan untuk keluar berjihad maka keluarlah (berjihad).”
(HR Bukhari)

PERTANYAAN : 
Terus terang saja, Pak, Saya ini masih awam dalam agama Islam. Bolehkah saya ikut ber-jihad fii sabilillah ?

JAWAB :
Minimnya pemahaman seseorang TERHADAP DIEN tidak menggugurkan kewajibannya untuk melakukan JIHAD. Bukankah Rosululloh pernah mengizinkan seseorang yang baru saja masuk Islam dengan mengucapkan syahadat untuk pergi berperang? Dan Ketika orang tersebut syahid, Rosululloh berkomentar, “Ia beramal sedikit, tetapi diberi ganjaran banyak.”

“Luruskan pemahaman tentang dienul Islam, baru berjihad. Bagaimana bisa berjihad, kalau Islamnya saja tidak betul.”

Kalimat-kalimat seperti di atas adalah pisau beracun yang mempunyai dua mata. Mata pertama mengakibatkan urungnya seseorang menjalankan kewajiban Jihad fii Sabilillah. Sementara mata kedua memisahkan antara Jihad dan Islam itu sendiri. Padahal dua hal tadi adalah sebuah kesatuan yang tak terpisah. Mereka yang mempunyai pemahaman ini adalah orang-orang yang LALAI. Lalai dan lupa bahwa sesungguhnya takaran akhir dari benar tidaknya Islam seseorang adalah pelaksanaan Jihad fii Sabilillaah.

Tanpa jihad, kesempurnaan Islam masih berupa tanda tanya besar. Adalah Rosululloh Sholallohu `alaihi wassalam menjadikan Jihad fii SAbilillaah sebagai puncak dari urusan dien ini. Beliau juga bersabda,"Barangsiapa yang tidak pernah berperang, dan tidak pernah pula menginginkan untuk perang, maka orang tersebut mati dalam keadaan jahiliyyah”. justru dua sifat yang disindir oleh Rosululloh adalah lambang kebodohan.

Seseorang tokoh populer dalam dunia Jihad, Dr. Abdulloh Azzam Rohimahulloh menandaskan bahwa sebaik-baik tarbiyah adalah : PARIT-parit JIHAD (Turun langsung ke medan jihad, ed). Sibuk mentarbiyah diri dengan buku-buku dan kajian-kajian serta seminar hanya akan melumpuhkan potensi seorang Muslim, menjadikan hatinya keras dan mempertinggi potensi konflik. Memang benar, buku dan wasilah lain di atas adalah sarana untuk memahamkan seorang awam terhadap Islam. Tetapi perkataan DR.Abdulloh Azzam rohimahulloh di atas adalah sebagai reaksi atas munculnya fenomena sekelompok orang Islam yang mendakwahkan dirinya sebagai faqih, lulusan universitas ini dan itu, lalu menilai sebuah jihad yang dilakukan ummat Islam tidak sah, tanpa mau turun langsung ke medan JIHAD.


NOTE : Konten blog ini diluar dari tanggung jawab dari Yayasan Al Mukhlasin 'Ibadurrohman.

Kunjungi pula :
1. Facebook Guru Besar Ya Ibad
2. Ya Ibad di Google Plus
 Ya Ibad ~

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُعَاوِيَةَ

بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Mu’awiyah bin Qurrah dari Bapaknya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku mendapat pertolongan. Orang-orang yang menghinakannya tidak akan membahayakan mereka hingga terjadi hari kiamat.”



Sanad hadits:
  1. Muhammad bin Basyar bin Utsman Al Abdi Al Bashri Abu Bakar Bundaar, tsiqah 252H.
  2. Muhammad bin Ja’far Al Hudzali Al Bashri ghundar, tsiqah 193H.
  3. Syu’bah bin Hajjaaj bin Al Ward Abu Bistham Al Wasithi, tsiqah hafidz mutqin, sufyan Ats Tsauri menganggapnya sebagai amiirul mukminin dalam hadits, ia yang pertama kali memeriksa hadits di iraq dan membela sunnah, 160H.
  4. Mu’awiyah bin Qurrah bin Iyaas Abu Iyaas Al Bashri, tsiqah, 113H.
  5. Qurrah bin Iyaas bin Hilaal abu Mu’awiyah, shahabat mulia, 64H.

Derajat hadits:
Sanad hadits ini shahih, dan hadits ini dikeluarkan juga oleh Bukhari dan Muslim.
Fawaid hadits:
  1. Bahwa kebenaran itu tidak akan pernah sirna dan akan terus bersinar disetiap zaman dan generasi.
  2. Akan adanya sekelompok umat Muhammad yang senantiasa membela sunnahnya dan berpegang kepada kebenaran di setiap zaman, semoga kita termasuk dalam golongan mereka. Amiin
  3. Mereka adalah firqah naajiyah dan thaaifah manshurah yang selalu berpegang kepada jalan Rasulullah dan para shahabatnya.
  4. Imam Ahmad mengatakan bahwa mereka adalah ahlul hadits yang selalu berpegang kepada hadits dan menapaki jejak kakinya.
  5. Bahwa mereka akan terus berjalan dan menebar walaupun dicemoohkan oleh orang yang mencemooh dan dimusuhi oleh ahlul bida’
  6. Mereka akan senantiasa ditolong oleh Allah baik dengan kekuatan fisik maupun kekuatan hujjah dan keterangan.
  7. Mereka akan senantiasa ada sampai ditiupkan angin yang lembut yang mencabut nyawa setiap muslim sebelum ditiupnya sangkakala.
Dan sejarah terus berlanjut dengan hadirnya seorang pemberani dari tanah Kandahar yang begitu berani menentang kekuasan NATO yang begitu angkuh bak Firaun di jaman nabi Musa, dialah Mullah Muhammad Umar.

Pemuda Muhammad Umar mulai ikut berjihad pada tahun 1980 ketika tanah airnya diinvasi Uni soviet. Dibumi Afgan ini, sembilan tahun kedepan, bersama mujahidin dari Arab, dimana Muhammad Omar bersahabat dengan Usamah bin Ladin, akhirnya mampu mengusir Uni Soviet. Mujahidin perkasa ini tidak hanya terlibat dalam perang-perang kecil, tapi jauh lebih dari itu, perang besar yang menewaskan pasukan elit Soviet telah mereka lakukan, dan tak ayal kaum kuffar hengkang. Setelah berjihad perang usai tahun 1989, Muhammad Omar meneruskan belajarnya, dan dia menyatakan kembali, tetap, sebagai thaliban (murid/santri/mahasiswa).
Perginya Unisoviet pada akhir tahun 1989 bukan berarti tidak menyisakan masalah. Mujahidin yang awalnya bersatu melawan agresor, kemudian mulai berperang satu sama lain (civil war), dan perampokan, pemerkosaan, serta korupsi merajalela. Krisis keamanan, ketegangan, ketertiban, terus terjadi, dan dengan demikian gejala agama Islam sebagai agama mayoritas di Afgan seakan jauh ditinggalkan. Tahun 1989-1994 adalah masa chaos, brutal, dan out of law.

Melihat kenyataan ini, Muhammad Omar menginginkan perubahan, kembali ke dienul Islam. Dengan latar belakang bangsa yang keras, dan Islam yang sudah mengakar sejak jaman Khulafaur Rasyidin Omar bin Khattab, cukup mudah mengumpulkan beberapa pemuda yang mau merubah kekeliruan ini. Dengan meminjam sepeda motor, Muhammad Omar mendatangi setiap sekolah untuk mengajak siswa untuk berjihad melawan kerusakan di bumi Afgan, mereka sepakat untuk bertemu keesokan harinya. Namun kenyataan berbicara beda. Pukul 1 dini hari, pemuda sudah berkumpul di rumah Muhammad Omar. Belum genap 24 jam seperti yang diharapkan, ternyata mujahidin datang lebih awal.
Dengan meminjam 2 mobil kepada pengusaha lokal yang kaya, dan senjata sisa jihad melawan kaum kuffar Uni Soviet, para murid-murid sekolah ini mulai melakukan peperangan melawan veteran yang melakukan kejahatan. Selama 2 tahun, 1994-1996, thaliban ini banyak kawasan yang semula dikuasai pihak yang bertikai kemudian dapat direbut, bahkan ada yang menyerahkan secara sekarela kepada Thaliban serta menyatakan berafiliasi juga tunduk dengan mujahid yang mata kanannya buta karena terkena mortir Soviet tahun 1989.
Tahun 1996, Thaliban menguasai Kabul. Ibu kota Afgan ini dimasuki anggota Thaliban, gambar Mullah Muhammad Omar tertangkap kamera wartawan, baik itu lokal ataupun internasional, dengan sorban kepala berwarna putih dan jubah berwarna gelap yang diyakini milik mendiang Nabi Mahammad SAW, beliau dengan tenang memasuki kota Kabul, tak ketinggalan Usamah bin Ladin juga ikut dalam rombongan. Afgan kemudian dinyatakan sebagai negara Islam, tentunya ditetapkanlah Syariat Islam. Selama tahun 1996-2001 kinerja pemerintahan Thaliban terbilang tegas, alhasil heroin, pelacuran, pemerkosaan, korupsi, dan kejahatan turun drastis, bahkan teramat kecil. Taliban telah mengembalikan keteraturan.
Negara yang melaksanakan Islam secara kaffah sesuai syariatnya, menarik Osama untuk bermukim di Afgan, dan Thaliban memposisikan Osama sebagai tamu kehormatannya. Kesamaan visi dan misi, khususnya akan tegaknya Khilafah Islamiyah, penerapan Syariat Islam, dan menolong ummat Islam dibelahan dunia karena kezoliman Amerika Serikat, Israel, dan negara liannya, kemudian menjadikan Mullah Muhammad Omar berikut anggota Thaliban dengan Osama Bin Laden bersama Al Qaeda terjalin hubungan yang erat, bedanya hanya sedikit: Thaliban adalah orang Afgan, dan Al Qaeda adalah berasal dari ummat muslim dari seluruh dunia. Tentunya, pengalaman bersama melawan Unisoviet menjadi kenangan flamboyan bagi kedua pahlawan Islam ini.
Amerika Serikat masuk dalam target penghancuran karena berbuat zolim dalam bentuk dukungan politik ataupun militer kepada Israel, ataupun embargo ke Iraq yang sebabkan bayi mati secara sistematik karena kelaparan. Tidak mengagetkan kemudian Thaliban menolak ijin Amerika Serikat yang akan membangun pipa minyak melewati bumi Afgan. Amerika merayu sekaligus mengancam Thaliban, kira-kira seperti ini:
"Jika engkau memberi ijin, maka akan kami berikat karpet emas, tapi bila tidak, maka bom akan berjatuhan di Afgan"
Di Afgan inilah perencanaan penghancuran menara kembar WTC dan Pentagon dilakukan, ini artinya kedua belah pihak sudah siap berperang. Bagi Amerika Serikat, Thaliban dengan Al Qaeda sama saja, sederhana alasannya: mereka tidak mau tunduk dengan negara adi daya. Perang akan berlangsung, dan mereka mengetahuinya. Dengan seijin Allah yang maha digdaya, dan sudah tentu menampakkan secara nyata kecerobohan sekaligus kebodohan AS-CIA yang membabi buta, tejadilah peristiwa bersejarah, yakni negara yang katanya superpower yang tidak pernah diserang negara lain, apalagi di pusat kotanya sejak tahun 1776, dikagetkan dengan aksi jihad 19 syuhada pada 11 September 2001. yang pada dasarnya amerika sendiri lah yang mendesain kehancuran WTC.
Usamah bin Ladin dijadikan sasaran kemarahan negara Paman Sam, dan Afgan sebagai tempat bermukimnya akan dibombardir Amerika Serikat. Hal ini disebabkan pemerintah Thaliban tidak mau menyerahkan Usamah bin Ladin, dan ditengah-tengah ulama dan para rakyat yang hadir di masjid, Mullah Muhammad Umar dengan lantang berkata, kira-kira seperti ini:
"Diserahkan atau tidak saudara kita Osama, kaum Kuffar (Amerika Serikat dan sekutunya) tetap akan menyerang kita."
Selanjutnya disiapkannya strategi, dengan kekuatan persenjataan sisa jihad tahun 80-an, bergerilya adalah solusinya. Memang Thaliban dapat digulingkan Amrikiyah dengan dikuasainya Kabul dan mengangkat boneka baru: Karzai, tapi kenyataannya Thaliban tidak pernah terguling, mereka terus berperang. Bom jihad dan penyerangan terhadap patroli dan pos militer Amerika Serikat, NATO yang kemudian bergabung, dan negara sekutu lainnya terus berlangsung hingga tahun 2007 sampai sekarang (maret 2011)
Risalah ini bersumber kepada buku "The Giant Man-Biografi Muhammad Mullah Umar" yang ditulis oleh orang terdekat, menjelaskan bahwa Mullah Muhammad Omar bukanlah mitos, atau tokoh yang digambarkan oleh intelejen dan berita. Tentunya, pembaca dibawa ke tanah Afgan yang keras kehidupannya, dan gelora jihad yang selalu subur. Menurut beberapa hadis yang kuat, amat diyakini bahwa di Khurasan (Afgan salah satu wilayahnya) akan muncul kekuatan Islam akhir jaman dalam membela secara sungguh-sungguh ummat Islam dan menjadi pasukan, pengawal Imam Mahdi dalam menghancurkan Dajjal. Di Khurasan inilah, akan muncul Khilafah Islamiyah. Nabi Muhammad bersabda:
"Jika kalian melihat bendera-bendera hitam datang dari Khurasan, disana ada Khalifatullah, Al Mahdi" (HR. Ahmad).


Mullah Muhammad Omar, walupun sudah diangkat sebagai Khalifatullah oleh ulama dan mujahidn Afgan, serta secara sukarela berperang melawan Soviet, tetap dia masih menganggap dirinya sebagai Thaliban (murid/santri). Disinilah kekuatannya, tak mengagetkan bilamana bumi Afgan yang dipimpinnya, dari yang awalnya full of chaos kemudian berubah menjadi obey the order, menyatakannya sebagai The Giant Man, sosok manusia yang mampu tegar dikerasnya Afgan dan menolak tunduk kepada Amerika Serikat!!!

Beliau lahir di wilayah Urzajan pada tahun 1962 M.
Beliau meneruskan sekolah di Sanj Sar, di wilayah Mayond di propinsi Qandahar. Akan tetapi, korupsi besar-besaran dan bencana yang hebat yang meporak-porandakan Afghanistan menjadi sebab terjadinya perselisihan di kalang jama’ah jihad. Hal tersebut membuat Mullah Umar mulai berpikir untuk berperang melawan korupsi dan menghancurkan mungkarat yang telah menyebar hampir di seluruh Afghanistan.

Beliau mengumpulkan murid-murid dari agama tersebut dan dari beberapa kelompok study ( halaqah ) untuk melaksanakan tujuannya pada musim panas tahun. Pada tahun 1994 M, mereka mulai bekerja dengan beberapa bantuan beberapa pengusaha dan tuan tuan tanah. Beliau bersama kelompok kecil murid sekolah ilmu syari’ah dan Maulawi Afghan di Qandahar mulai memburu para perampok dan pencuri yang menjarah para musafir maupun pedagang. Kemudian para murid yang dipimpin Mullah Umar melucuti senjata para pencuri dan mendapati beberapa wanita terbunuh, para pencuri melarikan diri dari Qandahar.

Masyarakat disana kemudian mengganti gubernur yang merupakan pengikut Rabbani yang memerintah Kabul saat itu. Penggantian ini karena ketidakmampuan gubernur untuk menangkap para pencuri yang tak terhitung jumlahnya. Kemudian mereka menunjuk Mullah Umar menjadi amir atas mereka. Kemudian beliau mengumumkan pemberlakuan syari’at di Qandahar. Dan ini cerita awalnya Amirul Mu’minin berkisah dengan mulutnya sendiri yang direkam dan di siarkan stasiun radio bernama suara syari’ah di Qandahar. Stasiun radio ini menjadi stasiun radio islam pemerintah islam.

Beliau berkata : “saya telah belajar di sebuah sekolah di kota Sanj Sar di Qandahar dengan sekitar 20 murid yang lain. Kemudian korupsi, pembunuhan, perampasan dan perampok telah melampaui ambang batas dan pengawasan berada pada tangan orang korup dan jahat. Tidak seorangpun membayangkan bisa mengubah dan memperbaiki situasi. Saya telah memikirkan hal tersebut sungguh-sungguh dan berkata pada diri saya sendiri, ……Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286).

Ayat ini cukup bagi saya untuk meninggalkan perkara ini karena tidak satu pun berada dalam kemampuan saya. Akan tetapi saya yakin kepada Allah dengan keyakinan yang murni dan barangsiapa yang meyakini Allah denga keyakinan ini maka harapannya tidak akan sia-sia. Orang-orang mungkin penasaran : kapan gerakan ini mulai ? Siapa di balik gerakan ini? Siapa yang membiayai? Siapa yang memimpin dan mengatur gerakan ini?

Dan saya berkata : awal dari gerakan ini adalah ketika saya menutup buku saya di sekolah dan mengajak satu orang bersama saya. Kami berjalan kaki ke wilayah Zanjawat. Dari sana saya meminjam sepeda motor kepada seseorang bernama Surur, kemudian kami pergi ke Talukan. Itulah awal dari gerakan ini dan hilangkan pemikiran lain dari benak anda.

Kami mulai mendatangi murid-murid di sekolah-sekolah dan kelompok-kelompok kajian (halaqah) pada pagi hari itu. Dan kami telah mendatangi satu halaqah yang diikuti sekitar 14 orang yang sedang belajar. Saya kumpulkan mereka mengelilingi saya dan saya berkata bersama mereka,

“Agama Allah telah diinjak-injak. Masyarakat terbuka mempertontonkan perbuatan setan. Ahli agama menyembunyikan agama mereka, sehingga setan mengendalikan seluruh wilayah mereka. Mereka mencuri uang masyarakat, menyerang kehormatan masyarakat, membunuh orang lalu menindihnya dengan batu di pinggir jalan. Mobil yang lalu-lalang melihat mayat dipinggir jalan dan tidak bergerak untuk menguburkannya di bumi secara layak.”

Saya berkata kepada mereka. “Tidak mungkin hanya meneruskan belajar pada kondisi seperti ini. Masalah-masalah tidak mungkin diselesaikan hanya dengan slogan-slogan. Kami, para murid, ingin bangkit melawan korupsi. Jika kalian ingin benar-benar bekerja bagi agama Allah, maka kita harus meninggalkan bangku study. Saya akan jujur kepada kalian. Tidak seorangpun membantu kami meskipun satu rupee (mata uang Pakitan). Sehingga kalian tidak akan berasumsi kami akan menyediakan makanan untuk kalian, bahkan mungkin kami yang akan meminta bantu an makanan dan tenaga dari masyarakat"

Saya berkata, “Ini bukanlah pekerjaan satu hari, satu minggu, satu bulan atau bahkan satu tahun. Ini akan memakan waktu yang sangat lama. Apakah kalian sanggup atau tidak?

Saya berkata untuk memberi semangat mereka, “Setan yang sedang bertahta itu seperti ketel besar yang menghitam karena panasnya. Padahal hari itu adalah hari-hari pada musim panas yang sangat panas. Perang melawan agama Allah sedang dilancarkan. Kami mengaku berasal dari pasukan Allah dan kami tidak dapat melakukan aksi apapun untuk mendukung syari’at-Nya.”

Saya berkata kepada mereka, “Jika kita menaklukkan satu wilayah, kita akan mempertahankannya. Jangan mengeluh tidak bisa belajar atau kekurangan uang dan persenjataan. Jadi, dapatkah kalian melakukan aksi ini atau tidak?”

Kemudian tidak satu pun dari empat belas orang tersebut yang menerima rencana untuk melakukan aksi dan mereka berkata, “Kami mungkin bisa melaksanakan beberapa tugas pada hari jum’at.” Jadi saya berkata kepada mereka, “Siapa yang mau melakukan di ujung ini?”

"Saya menjadikan Allah ta’ala sebagai saksi bahwa ini adalah kebenaran saya akan bersumpah atas hal tersebut di hadapan Allah ta’ala, di hari pembalasan. Gerakan ini adalah akibat dari keyakinan kepada Allah karena jika saya mengukurnya dari hasil pendidikan sekolah atau halaqah seperti halaqah tersebut, saya mungkin telah kembali ke sekolah. Tetapi saya memenuhi janji kepada diri saya sendiri untuk mencari ridha Allah ta’ala. Sehingga Allah ta’ala menolong saya seperti yang telah anda lihat sekarang ini. Setelah itu saya pergi ke tempat halaqah yang lain, saya diikuti tujuh orang. Setelah saya menjelaskan apa yang telah saya paparkan sebelumnya, semua peserta halaqah siap ikut melakukan aksi gerakan bersama saya"

Semua peserta berasal dari satu bangsa, tidak ada perbedaan antara yang muda dan yang tua, antara yang anak-anak dan yang remaja, yang pria dan wanita. Pekerjaan didasarkan pada ketetapan dari Allah ta’ala, sehingga Allah menguji saya sejak permulaan gerak ini. Kemudian kami pergi lagi mengendarai motor ke beberapa sekolah dan halaqah, sampai waktu shalat ‘Ashar tiba, terkumpul 53 orang yang siap. Kemudian saya mengatakan kepada mereka, “Datanglah besok pagi.” Dan saya kembali ke sekolah di Sanj Sar. Akan tetapi, mereka telah datang pada pukul 01:00 dini hari ke Sanj Sar. Jadi, itulah permulaannya.

Pekerjaan telah dimulai bahkan 24 jam berlalu dari idenya. Salah satu dari teman saya memimpin mereka shalat. Ketika dia telah selesai memimpin shalat shubuh, seorang pengikut berkata, “Malam tadi ketika saya sedang tidur, saya melihat para malaikat memasuki Sanj Sar dan tangan-tangan mereka begitu lembut, jadi saya minta mereka mengusap saya untuk perlindungan.”

Dan pagi itu, pada pukul 10:00, kami minta dua bantuan mobil dari al-Hajj Bishri, salah satu pengusaha di wilayah tersebut. Dia memberi kami dua buah mobil, sebuah mobil kecil dan sebuah truk kargo besar. Kemudian kami memindahkan murid-murid tersebut ke wilayah Kashk Nukhud. Beberapa orang lagi bergabung bersama kami, sehingga jimlah kami menjadi banyak. Kami meminjam persenjataan dari masyarakat. Jadi, inilah permulaan gerakan ini dan ini berlanjut.

Beliau mulai berjihad jauh bertahun-tahun lampau dan tidak pernah berbicara dalam wawancara dengan republik atau jurnalis. Beliau telah menghabiskan masa jihad melawan Uni Soviet, sebagai pemimpin sekelompok mujahidin di medan jihad di bawaqh komando Mullah Tik Muhammad yang menjadi bagian dari al-Jam’iyyah al-Islamiyah di propinsi Qandahar. Beliau terluka pada sebuah peperangan melawan Uni Soviet yang menyebabkan beliau kehilangan sebelah matanya. Kemudian beliau dari satu organisasi ke organisasi yang lain, sampai menetap pada satu organisasi sebelum peristiwa genting Thaliban dalam “Gerakan Politik Islam” yang dipimpin Maulawi Muhammad Nabi.

Berita perdamaian menyebar di Qandahar. Konvoi dari para murid dan penduduk pripinsi barat daya yang berbatasan dengan Qandahar mulai berdatangan. Penduduk Qandahar yang telah mengetahui perjuangan para murid melawan kejahatan meminta mereka mengambil alih tersebut menjadi wilayah kekuasaan mereka dan menerapkan syari’at islam. Mereka membantu pengalihan kekuasaan dan penerapan syari’at. Dengan begitu para murid disebut “Taliban” (jama’ dari Talabah yang berasal dari bahasa Pashto/Pashtun) mengambil alih kekuasaan hampir seperlima Afghanistan tanpa peperangan, tetapi dengan keinginan penduduknya menginginhkan syari’at dan keamanan.

Taliban, murid ilmu syari’ah di kalangan masyarakat Afghan, telah maju kedepan melewati propinsi-propinsi di utara dan timur tanpa banyak usaha dan Rabani, penguasa di Kabul, tidak mengumumkan sikapnya dikarenakan pengetahuannya bahwa dari pasukan saingannya, Hikmatyar, adalah mereka yang memisahkan wilayah mereka dari Kabul. Sebagai gantinya, dia menawarkan bantuan kepada mereka sebagai sebuah gerakan syari’ah yang memegang kendali atas penduduk yang sangat banyak, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetapi Hikmatyar memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerah kepada Thalibandi wilayah Ghazni. Kemudian bagian utara mencapai Kabul, dimana wilayah-wilayahnya telah jatuh ketangan Thaliban satu persatu tanpa peperangan atau dengan sedikit peperangan. Sebagian besar kekuatan, kelompok dan bahkan pencuri dan perampok ulung pun ragu-ragu untuk berperang melawan murid-murid ilmu syari’ah (Thaliban).

Beberapa partai yang lain, seperti partai “Yunus Khalis” dan pasukan “Haqqani” menyerahkan wilayah mereka di Baktiya dan Khost kepada Thaliban. Sebagian besar kekuatan “Sayyaf” menolak berperang dengan Talabah dan menyerahkan “Nankarhar” dengan ibu kotanya “Jalalabad” ketika mereka melihat kepemimpinan Talabah, penerapan syar’i mereka, amar ma’ruf nahi mungkar mereka, perlindungan keamanan yang mereka berikan dan pemberantasan kejahatan tingkat tinggi dan pengamanan jalan raya.

Mullah ‘Umar Sebagai Amirul Mu’minin
Setelah Talabah mencapai pinggir kota Kabul, pertemuan besar digelar oleh para ulama yang jumlahnya mencapai 1500 orang. Pertemuan itu langsung antara 31 Maret sampai4 April 199 M dan Mullah Muhammad ‘Umara secara resmi dipilih sebagai amir dari gerakan Thaliban dan diberi gelar Amirul mi’minin. Sejak hari itu Thaliban mengangapnya sebagai amir syar’I yang menurut mereka memiliki seluruh hak dari khalifah.
Talabah mencapai pinggiran kota Kabul dan pergi menemui Rabbani dengan sejumlah permintaan. Permintaan yang paling penting adalah :

* Penerapan syari’at.
* Menganti penguasa komunis dan pengikutnya dari pemerintahan.
* Memindahkan wanita dari gedung pemerintahan.
* Mencegah korupsi, pelacuran, sinema, musik, video bejat yang telah menyebar di Kabul.

Rabbani meminta satu konvoi dari Thaliban untuk berunding dengannya. Mereka mengirim satu konvoi dan ternyata dikhianati oleh pasukan menteri pertahanan, bahkan setelah mereka mengirim perjanjian bahwa mereka akan menyerahkan senjata, berhenti berperang dan memulai negoisasi. Kemudian pasukan menteri pertahanan tersebut membunuh sejumlah peserta konvoi Thaliban yang datang kepada mereka. Disebutkan bahwa jumlah Thaliban yang dibunuh mencapai 250 orang. Setelah itu tidak ada lagi yang terjadi kecuali Thaliban menyerang Kabul yang takluk begitu cepat pada 26 September 1996 M.

Thaliban menaklukkan wilayah-wilayah utara Afghanistan pada tahun 1997 M. sedang Bamiyan, yang menjadi pusat Rafidhah di Afghanistan takluk pada tahun 1998 M. sebelum itu, lembah Kayan yang dikontrol tentara Aghakani Isma’ili juga tumbang. Thaliban memperoleh rampasan perang berupa senjata yang tak terhitung jumlahnya. Di sebutkan bahwa ahlu sunnah tidak pernah memasuki lembah ini selama 800 tahun sebelumnya.
Seperti itulah kurang dari empat tahun. Thaliban telah menguasai 95 persen tanah Afghanistan sejak Mullah Muhammad ‘Umar, semoga Allah melindunginya dan saudara-saudara mujahidin mulai melindungi kehormatan sekelompok muslimah yang dirusak pencuri dan perampok.

Itulah asal sebelum Amerika memerangi negara Islam ni, akan tetapi setelah Amerika menyatakan perang dengan negara ini, yang memang amerika selalu membenci Islam maka sejarah seolah terbalik jauh sekali, amerika yang sudah pintar memutar balikan fakta, sangat pintar dalam membuat propaganda dan menguasai media dengan seenaknya mengatakan bahwa Taliban   adalah sekelompok orang biadab, perampok ulung dan mengeruk keuntungan dari penjualan kokain dan semua anjing-anjing media berita akan menggonggong sesuai dengan bualan amerika termasuk media berita yang ada di indonesia, termasuk semua berita bohong tentang penghancuran gedung WTC dimana orang-amerika sendiri pun percaya bahwa yang menghancurkan gedung tersebut adalah "orang dalam" yang selalu di ingkari oleh Bush, sementara semua anjing anjing media piaraan amerika menutup mata akan kebiadaban amerika yang telah mengakibatkan ratusan ribu rakyat irak meninggal dengan tanpa alasan yang jelas, dan menutup mata akan kebiadaban bos nya amerika yaitu Israel yang telah menjajah Palestina sejak tahun 1948.

Dengan keteguhan seorang mujahid sejati Mullah Muhammad Umar menentang keangkuhan Amerika dan menyatakan dengan tegas :

"Jika tidak ada lagi yang tertingal di Afghanistan kecuali darahku, aku akan melindungi Usamah bin Ladin dan mujahidin Arab dan aku tidak akan pernah menyerahkan mereka"  
Muhammad Mullah Umar, Pemimpin Taliban


"Agar sejarah tertulis dan kaum muslimin bersaksi untuk kami bahwa kami terbunuh untuk mencari ridho Allah, atas dasar Islam dan Tauhid kami. Lebih baik kami bersama Allah daripada sejarah di tulis tetapi kaum muslimin bersaksi melawan kami bahwa kami telah hidup sehat dan sejahtera setelah kami menukar asas kami dan kesucian panji jihad, Barangsiapa berpikir bahwa negri kaum muslimin akan diberkati dengan kekuasaan tanpa ujian dan cobaan maka dia orang bodoh yang tidak mengetahui biografi Rasulullah SAW" 
(Amirul Mu'minin, Mullah Muhammad Umar )

Pertanyaan : 

Saya berpuasa Romadhon akan tetapi saya tidak sholat. Apakah puasa saya sah?

Jawab :
Puasa sampeyan tidak diterima, bahkan seluruh ibadah lainnya juga tidak diterima jika sampeyan meninggalkan sholat. Karena meninggalkan sholat termasuk kafir. Berdasarkan sabda Nabi shollallohu’alaihi wa sallam:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاةِ (رواه مسلم،  رقم 82)
"Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat." (HR. Muslim, no. 82)
Sedangkan orang kafir, seluruh amal perbuatannya  tidak diterima. Berdasarkan firman Alloh Ta’ala:
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا (سورة الفرقان: 23)
"Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al-Furqan: 23)
Dan firman-Nya:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ (سورة الزمر: 65)
"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Az-Zumar: 65)
Diriwayatkan oleh Bukhori sesungguhnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَرَكَ صَلاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ (رواه البخاري، رقم 553)
"Barangsiapa yang meninggalkan sholat asar, maka amalannya akan terhapus." (HR. Bukhari, no 553)
Makna ‘Terhapus amalannya’ yakni batal dan tidak bermanfaat baginya. Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan sholat, Alloh tidak menerima amalan darinya. Maka orang yang meninggalkan shalat tidak bermanfaat sedikitpun amalannya. Tidak akan dinaikkan amalannya kepada Alloh.
Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata terkait makna hadits ini, "Yang tampak dari hadits ini, bahwa meninggalkan ada dua macam; Meninggalkan semuanya, tidak pernah melakukan sama sekali, maka ini akan menghilangkan semua amalannya. Meninggalkan sebagian pada hari tertentu, maka ini menghilangkan amalan pada hari itu. Gugurnya amal secara umum seimbang dengan meninggalkan secara umum, dan gugurnya sebagian seimbang dengan meninggalkan secara tertentu." (As-Sholat, hal. 65)
Maka nasehat untuk penanya, hendaknya bertobat kepada Alloh Ta’ala. Menyesal atas kelalaiannya pada hak Alloh. yang menjadikan dia mendapat murka dan hukuman Alloh Ta’ala. Dan Alloh akan menerima tobat orang yang berobat dari hamba-hamba-Nya. Mengampuni dosa-dosanya. Bahkan Alloh Subhanahu sangat bergembira sekali. Nabi shollallahu’alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira orang yang bertobat dengan sabdanya:
التَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ (رواه ابن ماجه،رقم 4250 ، وحسنه الألباني في صحيح ابن ماجه 3424)
"Orang yang bertobat dari dosa, bagaikan dia tidak punya dosa."  (HR. Ibnu Majah, 4250. Dihasankan Al-Albany di shoheh Ibnu Majah, 3424)
Maka bersegeralah mandi dan sholat, agar terkumpul kebersihan penampilan dan apa yang ada dalam hati. Jangan menunda tobat dengan mengatakan saya akan bertobat besok atau setelah besok. Karena seseorang tidak tahu kapan kematian akan datang. Maka bertobatlah sebelum datang waktu dimana tidak bermanfaat lagi penyesalan.
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلا . يَا وَيْلَتِى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا .  لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنْ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإِنسَانِ خَذُولا (سورة الفرقان: 27-29)
"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rosul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia." (QS. Al-Furqan: 27-29).
Demikianlah, semoga bermanfaat untuk sampeyan. 
Jika sampeyan ada pertanyaan, kirimkan saja via email ke gurubesaryaibad@gmail.com