Ya Ibad

Blog Guru Besar Ya Ibad

  • Home
  • Mukadimah
Home » Hisbah
Showing posts with label Hisbah. Show all posts
Showing posts with label Hisbah. Show all posts

Monday, January 9, 2012

Hal-Hal Yang Mungkin Sampeyan Alami Di Bumi Jihad (1)

Ya Ibad ~  Mengetahui apa saja yang mungkin akan dialami di medan jihad sangatlah penting, dalam rangka mengantisipasi kebingungan, shock atau bahkan depresi. Kesiapan psikologis harus kita siapkan jika kita akan berjihad, karena kenyataan yang terjadi di lapangan bisa jadi sangat jauh dari apa yang kita saksikan dalam film dokumenter jihad (video-video jihad, ed). Bahasa sederhananya, tidak melulu menembak atau menyergap musuh. Tetapi sungguh lebih besar lagi dari hal tersebut. Di sesi ini, kami akan mencoba mengetengahkan beberaa poin yang akan disampaikan secara berseri. Sebuah transisi (peralihan) kerangka berfikir sangat diperlukan ketika kita membaca poin-poin ini.

Kendala Bahasa
Kendala bahasa membuatmu merasa seperti hantu.
Ketika sampeyan ingin datang ke Bumi jihad mana-saja, sangat penting bagimu untuk mampu berbicara dengan bahasa setempat secara fasih. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka sampeyan akan menghadapi berbagai kesulitan, khususnya ketika berusaha berbaur dan berkomunikasi dengan sesama mujahidin. Masalah terbesar bukanlah sampeyan (sekedar) tidak bisa berbicara untuk menghadirkan percakapan yang hangat atau untuk mengekspresikan diri. Pada saat pertama kali, tidak mengapa jika seseorang tidak mampu berbahasa setempat selama ia dapat mengerti beberapa (kebiasaan) ekspresi dan bahasa standar sehari-hari. Tetapi setelah berlalunya waktu, maka akan mulai terasa efeknya terhadap hati kita. 

Proses sosialisasi sangat penting! Sampeyan akan menyadari hal itu, karena sampeyan akan ditinggalkan dari tiap diskusi atau percakapan dan sampeyan menjadi tidak tahu perkembangan apa-apa kecuali sampeyan diperintah langsung. Pada kondisi ini, sampeyan pasti akan mulai merasa rindu rumah, rindu kampung halaman, rindu keramahan orang-orang di negerimu, kenyamanannya, kemudahannya, dst. Sederhananya, bisikan setan mulai menghantam dengan amat keras, meski mungkin awalnya sampeyan adalah orang yang kuat dan tabah.

Temanku yang pergi ke Afghanistan bercerita betapa ia pernah begitu depresi meski ia telah membawa perangkat penerjemah setiap waktu. Ketika aku bertanya padanya, mengapa itu bisa terjadi? Ia menjawab bahwa hampir tidak ada seorang pun yang bisa menjadi tempatnya mencurahkan perasaannya. Nah, inilah yang membawa aku ke poin selanjutnya.

Membawa Teman

Memiliki teman membuat kita jadi ringan.

Salah satu sarana bagi sampeyan untuk dapat mengekspresikan diri dan punya tempat mencurahkan perasaan adalah berusaha memiliki teman yang akrab dan terpercaya yang ikut bersama ke bumi jihad. Ia haruslah sahabat yang mengerti sampeyan, kadang kita akan mengalami masa rehat yang cukup panjang, maka memiliki teman sangat penting, sebagai sarana saling mengingatkan untuk senantiasa tabah dan sabar. Sudah tentu, kewajiban tidak gugur atas dirimu ketika sampeyan tidak dapat membawa teman seperjalanan ke bumi jihad.

Berbaur Budaya
Jangan menyendiri seperti ibu jari.

Sampeyan harus mempelajari budaya setempat sebelum datang ke suatu negeri. Sampeyan harus tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh menurut tradisi mereka. Demikian juga sampeyan harus paham beberapa kultur budaya yang bertentangan dengan Syari’ah. Contohnya di Yaman, sampeyan akan melihat banyak orang mengunyah sesuatu. Hampir semua orang Yaman mengunyahnya. Yang mereka kunyah itu adalah gat (sejenis daun ganja atau khomr yang memabukkan). Jika kamu tidak tahu mengunyah gat itu haram, tentu kamu akan dengan mudah dipaksa mengikuti ‘tradisi’ orang Yaman itu. Juga penting untuk mengetahui bagaimana mereka berpakaian, dialek bahasa, dan berbagai tradisi lokal lainnya (seperti bagaimana mereka merayakan pesta pernikahan, isyarat tangan, dll). Sehingga mereka akan dapat menerima sampeyan dan tidak selamanya menganggap sampeyan orang asing.

Barang Bawaan
Periksa kembali bekal sampeyan.

Ketika pergi berjihad, sampeyan harus selalu ingat untuk membawa barang bawaan seringkas mungkin, karena sampeyan harus berpindah tempat secara tetap (nomaden, ed). Maka sangat tidak praktis jika sampeyan membawa koper besar kemana-mana, apalagi jika harus naik angkutan umum yang padat. Aku merekomendasikan supaya membawa sebuah ransel (backpack) saja yang (bahannya) kuat dan bagus, yang didesain dapat digunakan di segala musim dan cuaca. Bawalah dua atau tida setel pakaian, jangan khawatir kalau pakaian itu jadi kotor, karena di setiap basis / kamp militer, sampeyan bisa mencuci bajumu.

Bawalah perangkat pembersih tubuh (sabun mandi, dll) yang penting saja. Jangan lupa juga untuk membawa perangkat yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan cuaca dari daerah yang akan sampeyan datangi. Penting untuk membawa jam tangan yang water resist (anti air), dan dapat menyala didalam gelap (ada lampunya, ed). Jika sampeyan memerlukan sesuatu, biasanya pimpinan kamp atau seorang penanggungjawab akan membantumu.

Untuk sepatu, aku merekomendasikan sepatu boot yang fleksibel, yaitu sepatu boot yang cukup nyaman untuk dipakai dalam masa yang lama dan mudah kalau dipakai berlari. Karena biasanya medan yang dihadapi adalah perpaduan berbagai medan, seperti gunung, cadas (tanas berbatu), hutan, rawa-rawa, hingga gurun pasir. Sepatu kets cocok jika mampu menutup pergelangan kaki. Boleh juga membawa sandal untuk keperluan ke kamar mandi atau keperluan lain, tetapi dibanyak pengalaman, di kamp/basis mujahidin biasanya telah tersedia seperangkat sandal untuk sampeyan pakai. Ringkasnya, sampeyan harus punya sepasang sepatu yang kuat, nyaman dipakai dan dapat melindungi kaki. Sebagai pejuang gerilya, kakimu akan banyak merasakan medan yang berat, maka jangan segan untuk berinvestasi sepatu yang (kualitasnya) bagus serta perangkat kaki lainnya seperti pelindung lutut, pelindung pergelangan rangan, gel anti lecet, tali sepatu yang kuat, kaos kaki, dll supaya sampeyan dapat bergerak dinamis tanpa harus mendapatkan cidera seperti terkilir, patah kaki, dan lecet-lecet.

Terkait perangkat elektronik, dalam banyak pengalaman, hampir bisa dikatakan tidak bermanfaat jika sampeyan membawa handphone, karena mujahidin sudah pasti akan melarangnya. Jika sampeyan perlu untuk menelepon, maka mujahidin akan mengaturnya. Jadi membawa-bawa handphone bisa dikatakan tidak berguna, malah menambah beban dan berbahaya, apalagi jika kartu SIM-nya terpasang. Jika memang sampeyan tidak bisa tidak (harus) membawa handphone, maka lepaskan baterai dan kartu SIM-nya setiap saat hingga sampeyan diijinkan memasangnya kembali.

Tidak masalah jika sampeyan membawa mp3 player atau laptop. Biasanya ada sumber listrik untuk mencharge-nya jika diperlukan. Sampeyan mungkin juga boleh membawa kamera, tetapi harus meminta ijin dulu kepada komandanmu.

Yang terakhir, sangat penting kalau sampeyan membawa beberapa buku. Tegasnya, Al Qur’an ada di urutan pertama. Setelah itu, aku sarankan supaya membawa beberapa buku yang dapat sampeyan baca dan hafalkan, seperti hadits dan dzikir. Lalu sampeyan juga bisa membawa buku-buku bacaan lain seperti fiqh, syari’ah, siroh, sejarah, dll. Kalau belum menguasai bahasa setempat dengan fasih, maka sampeyan harus menyertakan kamus.

Jangan lupa membawa jaket yang bagus, atau jaket rompi dengan banyak kantong. Pastikan bahwa jaketmu memang cocok untuk cuaca yang ada.

Sampeyan tentu tidak ingin membawa bawaan yang berat, maka rencanakanlah dengan cermat!
NOTE : Konten blog ini diluar dari tanggung jawab dari Yayasan Al Mukhlasin 'Ibadurrohman. 

Kunjungi pula : 
1. Ya Ibad Internasional 
2. Facebook Guru Besar Ya Ibad 
3. Ya Ibad di Google Plus
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Monday, January 09, 2012

Seri Panduan Al Qur’an: Enam Seruan dalam Al Anfaal

Ya Ibad ~ Ada enam seruan yang disampaikan Alloh dalam surat al Anfaal. Surat ini turun setelah Perang Badar, yang merupakan peperangan besar pertama antara Rosululloh beserta pengikutnya melawan musyrikin kafir Qurois. Atas latar belakang ini, maka surat ini juga dinamakan Surat Badar. Dalam surat ini Alloh SWT menyampaikan enam seruan kepada orang-orang beriman, yang (tiap seruan, ed) diawali dengan frasa, “Yaa ayyuhalladzina aamanu... (Wahai orang-orang yang beriman...)”.

 Pahamilah! Niscaya Sampeyan Beruntung.

Seruan Pertama

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” 
(QS Al Anfaal [8] : 15)

Seorang muslim harus teguh dan tabah di medan pertempuran serta tidak boleh mundur (melarikan diri, ed). Dalam ayat lain lain dijelaskan lebih lanjut, jika dalam keadaan kuat, maka seorang muslim tidak boleh mundur ketika menghadapi sepuluh orang musuh. Dan jika dalam keadaan lemah, maka seorang muslim tidak boleh mundur ketika menghadapi dua orang musuh.

“Wahai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” 
(QS Al Anfaal [8] : 65 – 66)
 

Seruan Kedua

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rosul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata "Kami mendengarkan”, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS Al Anfaal [8] : 20 – 22)

Taat kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah kunci kemenangan. Ini adalah perintah yang berlaku umum atas setiap muslim/muslimah, tetapi karena konteks surat Al Anfaal adalah tentang perang di jalan Alloh (Jihad Fii Sabilillaah), maka perintah Alloh untuk berangkat berjihad mendapat penekanan yang khusus dalam konteks (ayat) ini. Alloh mencela mereka yang tidak mendengar dan mentaati perintah-Nya (untuk berperang) sebagai orang yang tuli dan bodoh. Bahkan Alloh mencela mereka dengan sebutan seburuk-buruk makhluk.

Seruan Ketiga

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” 
(QS Al Anfaal [8] : 24)
Ini adalah perintah Alloh untuk segera merespon seruan-Nya dan seruan Rosul-Nya. Dan Alloh menegaskan bahwa ini adalah seruan yang akan membawa kehidupan bagi kita. Alloh tidak akan pernah menyuruh kita kepada sesuatu yang akan mencelakakan kita. Seluruh perintah Alloh adalah untuk kebaikan kita. Tafsir salaf atas ayat ini menyebutkan bahwa dengan mentaati perintah Alloh dan mengikuti Sunnah Rosul-Nya, maka pasti kita akan memperoleh kehidupan yang baik. Sebagian Mufassir (Ulama Ahli Tafsir) dari kalangan tabi’in seperti Urwah bin Zubair, juga Ibnu Katsir, Al Qurthubi dan Asy Syaukani menafsirkan ayat ini adalah segera merespon seruan/panggilan berjihad karena melalui jihad kita akan memperoleh kehidupan. Kedengarannya aneh dan ironi. Bagaimana bisa kehidupan dapat diperoleh dengan berperang, dimana berperang adalah mempertaruhkan diri dalam bahaya dan maut? Bagaimana bisa perang yang isinya adalah kengerian dan kematian dapat membuka jalan bagi kehidupan? Berikut beberapa penjelasannya :

Dalam Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim, Urwah berkata : “Artinya dengan berperang engkau akan mendapatkan kemuliaan setelah sebelumnya engkau diliputi kehinaan, memberimu kekuatan setelah sebelumnya engkau lemah, melimpahkan kepadamu kemenangan setelah sebelumnya engkai dikalahkan oleh musuhmu.”

Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ fi Ahkamil Qur’an : “Terkait dengan ayat [[....penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada mu...]] Jihad adalah kehidupan karena menyebabkan (terjaminnya) kehidupan. Karena jika engkau tidak menyerang musuhmu, maka musuhlah yang akan menyerangmu, yang (serangan itu) menyebabkan kematian dan kepunahanmu. Sebagai tambahan, kematian dalam rangka berjihad bukanlah kematian, tetapi jalan menggapai hidup abadi yang mulia di surga.”

Seruan Keempat


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rosul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” 
(QS Al Anfaal : 27)

Ini adalah peringatan Alloh untuk tidak mengkhianati sesama saudara muslim dengan bersekutu kepada orang kafir. Jangan membantu orang kafir baik dalam segala aspek apakah memberi informasi, memata-matai dll dalam rangka ikut serta memerangi orang-orang muslim. Memberi informasi intelijen kepada orang kafir adalah perbuatan pengkhianatan kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Seruan kelima

"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqon. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar". (QS Al Anfaal : 29)

Jika kita bertaqwa kepada Alloh maka Alloh akan mengampuni kita, Dia juga akan memberikan kepada kita furqon, pemisah, pembeda, ciri khas, serta kemampuan untuk membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Sungguh ini adalah karunia berharga dari Alloh berupa cahaya yang Alloh berikah ke dalam hati orang-orang yang beriman, sehingga dapat menolongnya untuk melihat yang benar dan yang salah, yang baik dengan yang buruk.

Seruan keenam


"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al Anfaal : 45 – 46)
Seruan dalam ayat ini mengandung lima perintah : 1) bersikap teguh, 2) banyak berdzikir mengingat Alloh jalla jalaaluh, 3) taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, 4) menghindari berbantah-bantahan dan 5) bersabar. Inilah lima syarat datangnya kemenangan yang harus kita amalkan seluruhnya.

Demikianlah Enam Seruan Surat Al Anfaal kepada seluruh orang-orang beriman. Kami berdoa kepada Alloh agar dimasukkan ke dalam golongan yang mengikuti seruan-Nya. Aamiin.

NOTE : Konten blog ini diluar dari tanggung jawab dari Yayasan Al Mukhlasin 'Ibadurrohman. 

Kunjungi pula : 
1. Ya Ibad Internasional 
2. Facebook Guru Besar Ya Ibad 
3. Ya Ibad di Google Plus
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Monday, January 09, 2012

Wednesday, December 28, 2011

Hisbah Di Indonesia Dari Zaman Ke Zaman

Ya Ibad ~ Perlu kita sadari, bahwa gerakan amar ma’ruf nahi munkar (hisbah) di Indonesia sudah dimulai bersamaan dengan masuknya Islam ke Nusantara pada awal abad kedua Hijriyyah / kedelapan Miladiyyah, yang kemudian melahirkan kerajaan Islam Perlak di Aceh pada tanggal I Muharram 225 H di bawah pimpinan Sultan Alâiddin Sayyid Maulana ‘Abdul ‘Azîz Syâh bin ‘Ali Al-Hâris Al-Mu’tabar bin Muhammad Ad-Dîbâj bin Al-Imâm Ja’far Ash-Shâdiq bin Al-Imâm Muhammad Al-Bâqir bin Al-Imâm ‘Ali Zainal ‘Âbidîn bin Sayyidinâ Husein cucu Rasulullah SAW. Bacalah kitab ” Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan sekitarnya ” terbitan Lentera, karya Al-Ustâdz Al-Hâjj Muhammad Syamsu As.

Kemudian dari Perlak, Islam merambah ke seluruh negeri, termasuk tanah Jawa yang diislamkan oleh para Walisongo yang mulia. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah keturunan dari Al-Imâm ‘Abdul Mâlik Âli ‘Azhmatul Khân ibnu Al-Imâm ‘Alwi ‘Ammil Faqîh, keturunan ke – 17 dari Rasulullah SAW *(Ali Bin Abi Thalib?, karena garis keturunan yg syah dari laki-laki, patrilineal, dan karena Nabi Muhammad Bukanlah Bapak dari seseorang dari kamu, editor) melalui cucunya Sayyidunâ Al-Husein ra. Lihat kitab dan monogram Silsilah Leluhur ‘Alawiyyin keturunan Al-Imâm Al-Husein ra, karya almarhum Sayyid Muhammad Hasan ‘Aidîd, keluaran Penerbit Amal Saleh. Kitab dan monogram tersebut merupakan rangkuman sistematis dari kitab Samsyu Azh-Zhahîrah karya Al-Imâm ‘Abdurrahmân bin Muhammad Al-Masyhûr Ba ‘Alawi Al-Husaini rhm yang telah ditahqiq oleh almarhûm As-Sayyid Muhammad Dhiyâ’ Syihâb.

Menakjubkannya, saat para da’i pembawa Islam datang ke Nusantara 12 abad yang lalu, negeri ini 100 % hidup dalam alam jâhiliyyah. Kemusyrikan dan kebathilan ada di mana-mana. Tantangan yang mereka hadapi begitu dahsyat, mulai dari rakyat yang musyrik hingga para raja yang kafir. Namun, Subhánalláh wal Hamdulilláh, dengan izin Allah SWT, akhirnya mereka dan generasi berikut yang meneruskan perjuangan mereka, berhasil mengislamkan 90 % penduduk negeri ini.

Seharusnya tugas generasi yang ada saat ini hanya tinggal menyempurnakan apa yang telah dilakukan pendahulunya. Namun apa yang terjadi ? Sedikit demi sedikit, perlahan tapi terasa, umat ini sepertinya sedang digiring oleh suatu kekuatan syaithániah agar kembali ke alam jáhiliyyah. Pemurtadan terjadi di mana-mana, upaya deislamisasi begitu gencar dipropagandakan setiap saat.

Jadi berbagai usaha da’wah yang arif dan bijak telah dilakukan oleh para da’i pembawa Islam ke negeri ini sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan tindakan tegas dalam mencegah kemunkaran sudah sejak lama diambil oleh para pendahulu kita. Lihatlah bagaimana saat Walisongo mengambil keputusan hukuman mati kepada Syeikh Siti Jenar, karena ajaran wihdatul wujûd-nya yang dinilai telah menyimpang dari Islam.

Kisah Syeikh Siti Jenar tersebut dipaparkan dengan rinci oleh Wiji Saksono, dalam bukunya Mengislamkan Tanah Jawa, halaman 47 – 66. Dan diulas secara ringkas oleh Ust. Maftuh Ahnan dalam bukunya Wali Songo, Hidup dan Perjuangannya, halaman 65 – 68. Para Walisongo hidup sekitar akhir abad 14 M hingga awal abad 15 M. Sedang Achmad Chodjim memaparkan dengan panjang lebar tentang pemikiran dan paham Syeikh Siti Jenar yang ditentang keras para Walisongo dalam bukunya yang berjudul Syeikh Siti Jenar. Pengambilan hukuman mati terhadap Syeikh Siti Jenar merupakan penegakan Syari’at Islam dalam bentuk pelaksanaan hukum hudûd dalam masalah Ar-Riddah ( kemurtadan ), yang artinya pelaksanaan hukum had tersebut merupakan tonggak sejarah bagi penegakan Hukum Pidana Islam di bumi Indonesia.

Tidak sampai di situ, bahkan di Indonesia jauh sebelum kedatangan para penjajah, telah berdiri berbagai Kesultanan Islam yang menjadikan Islam sebagai agama negara dan syari’atnya sebagai hukum negara. Semangat amar ma’ruf nahi munkar dalam penegakan Syari’at Islam di Indonesia telah mampu mendorong kaum muslimin Indonesia untuk mengobarkan perlawanan habis-habisan terhadap para penjajah yang menzholimi bangsa Indonesia selama tidak kurang dari tiga setengah abad.

Di hampir semua peperangan kaum muslimin melawan Belanda, Inggris dan Portugis, nyata sekali semangat Jihad menegakkan Islam. Hal ini bisa kita ketahui melalui bukti historis, seperti peninggalan sejarah, pernyataan para tokohnya, gelar perjuangannya, tata cara pergerakannya, dan lain sebagainya dari simbol Islam yang digunakannya. Ust. H. Muhammad Syamsu As dalam kitab Ulama pembawa Islam di Indonesia dan sekitarnya memaparkan sejumlah bukti historis keterkaitan perjuangan mereka dengan pergerakan Islam, antara lain :

1. Perang Palembang ( 1658 – 1851 M )

Kesultanan Palembang Darussalam sejak berdirinya pada sekitar tahun 1650 M sudah menerapkan Hukum Islam. Gelar Sultannya adalah Khalifatul Mu’minin Sayyidil Imam.

Sejak tahun 1658 M, Kesultanan melakukan perlawanan besar-besaran terhadap Belanda dan Inggris hingga tahun 1851 M, sampai akhirnya jatuh setelah banyak keluarga kesultanan dan rakyatnya yang dibuang dan dibunuh oleh musuh.

Semangat membela Islam dan umatnya telah mendorong para Sultan Palembang berada di barisan terdepan memimpin rakyatnya dalam jihad melawan Belanda selama hampir 200 tahun.

Hukum Islam yang diterapkan, sebutan Darussalam untuk Palembang dan gelar Khalifah bagi Sultannya, merupakan bukti autentik keislaman negeri Palembang dan perjuangannya.


2. Perang Bone ( 1814 – 1946 M )

Kerajaan Bone yang berdiri sejak tahun 1335 M, mulai mengenal Islam pada tahun 1611 M ketika Sultan Adam ( Raja Bone XI ) memeluk Islam.

Di tahun 1814 M, Kesultanan Bone melakukan perlawanan terhadap Inggris dan Belanda yang mencoba menjajah Bone. Bahkan hingga Sultan Bone yang terakhir ( 1931 – 1946 M ), dengan gagahnya sang Sultan memimpin rakyatnya mengobarkan perlawanan jihad terhadap penjajah. Lebih dari 130 tahun, api Jihad berkobar di tanah Bugis tanpa henti.

Satu ungkapan terkenal dalam bahasa Bugis dari Raja Bone XXXI ketika ditangkap dan dibuang Belanda pada tahun 1905 berbunyi :
” Mauna sia labelateppa ri saliweng langi rekkua tellesang muni ada assituru kenna kitta naturungede Nabi Muhammad Nabiku, apa iya ri watakku nanggalo sia tubuhku temanggolo sia bela atikku ri Kompeni ”.
Artinya : ” Kendati saya akan terdampar di luar bumi sekali pun, asalkan tidak goyah imanku kepada kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad Nabiku, biar tubuhku menghadap atau tertawan tetapi hatiku pantang menyerah kepada kompeni ”.

Ini salah satu bukti keteguhan Kesultanan Bone dalam membela Islam dan menegakkan ajarannya.

3. Perang Paderi ( 1821 – 1837 M )

Muhammad Shahab diberi gelar Peto Syarif oleh masyarakatnya. Arti Peto Syarif adalah Ulama yang mulia. Di awal tahun 1800-an Miladiyyah, ia membangun sebuah kampung di Bukit Gunung Jati - Padang, yang kemudian dikenal dengan nama kampung Bonjol. Selanjutnya beliau pun lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Beliau berhasil menjadikan Bonjol sebagai pusat penyebaran Islam ke seluruh Minangkabau.

Dalam rangka membela diri dan menjaga keamanan da’wah Islam dari gangguan dan serangan Kaum Adat yang senang ma’siat. Imam Bonjol membentuk barisan amar ma’ruf nahi munkar (hisbah) yang berseragam serba putih. Barisan ini dikenal dengan sebutan Kaum Paderi.

Dalam waktu singkat Kaum Paderi berhasil mengalahkan Kaum Adat dan menguasai hampir seluruh Minangkabau. Mereka pun membuat Undang-Undang Paderi yang melarang segala bentuk ma’siat yang selama ini telah membudaya di Minang seperti menyabung ayam, minum tuak, berjudi dan menghisap madat.

Di tahun 1821 M, Belanda membantu Kaum Adat untuk memerangi Kaum Paderi yang dianggap berbahaya bagi kekuasaan kafir Kompeni. Perang pun pecah, Kaum Paderi banyak memetik kemenangan di berbagai pertempuran.

Di tahun 1833 M, Belanda membuat selebaran dengan sebutan Pelakat Panjang yang menyerukan bahwasanya Belanda dan Islam itu satu tuhan dan tidak ada permusuhan. Selebaran itu untuk membujuk Kaum Paderi, namun gagal, perang pun tetap berlanjut. (Di sini terlihat jelas bahwa Akidah Pluralisme memang merupakan senjata kaum kafir imprealist untuk meneguhkan kekuasaan mereka, Editor)

Di tahun 1837 M, Belanda dengan licik menyerbu tempat tinggal keluarga Imam Bonjol dan melukai istri serta anak beliau. Akhirnya, Imam Bonjol terpancing kembali dari medan tempur untuk menyelamatkan keluarganya, beliau pun terkepung dan tertangkap. Kemudian beliau dibuang dari satu tempat ke tempat lainnya, terus berpindah-pindah hingga beliau wafat pada usia 92 tahun di tahun 1864 M.

Mulai dari nama, gelar, pakaian, bentuk perjuangan dan pemberantasan kema’siatan hingga Jihad melawan kafir Belanda oleh Imam Bonjol dan pengikutnya, adalah murni merupakan perjuangan Islam sejati. Bahkan dari hasil perjuangan Kaum Paderi inilah lahir filsafat islami kehidupan masyarakat Minang yang sangat terkenal, yaitu :
”Adat bersendi Syara’, dan Syara’ bersendi Kitabullah ”.
Artinya : ” Adat harus berdasarkan Syari’at, dan Syari’at harus berdasarkan Kitab Allah ( Al-Qur’an ) ”.


4. Perang Diponegoro ( 1825 – 1830 M )

Pangeran Diponegoro dengan gagah berani memimpin kaum muslimin Jawa melawan keangkuhan Belanda di tahun 1825 M. Ikut bergabung bersama beliau sekitar 23 Pangeran dan 53 Bangsawan Jawa. Para Ulama pun tidak ketinggalan berjihad bersamanya, seperti Kyai Maja dan Ki Sentot Ali Basyah Prawiradirdja, keduanya menjadi Panglima Perang Pangeran Diponegoro.

Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan oleh para pengikutnya dan diberi gelar Sultan Ngabduhamid Herucokro Amirul Mu’minin Panotogomo Jowo. Artinya Sultan Abdulhamid Pemimpin Kaum Mu’minin Pengatur Agama Masyarakat Jawa. Gelar ini menjelaskan bahwasanya Diponegoro adalah pejuang Islam yang menegakkan ajaran Islam bagi rakyat Jawa.

Sebutan Amirul Mu’minin ditambah dengan corak pakaian Diponegoro dan para panglima perangnya yang lekat dengan budaya Islam, semakin memperkuat bukti keislaman perjuangan dan perlawanannya terhadap Belanda.

Selama 5 tahun, Diponegoro mengobarkan perlawanan terhadap Belanda. Sekali pun banyak anggota keluarga Keraton dan pengikut setianya yang mati atau ditangkap oleh kafir Belanda, Diponegopro tetap meneruskan perjuangannya tanpa mengenal lelah.

Akhirnya di tahun 1830 M, Belanda menggunakan cara licik untuk menangkap Diponegoro. Lewat jebakan perundingan, Diponegoro pun ditangkap dan dibuang ke Menado, kemudian Ujung Pandang. Selama 25 tahun Diponegoro dikurung, hingga beliau wafat dalam pengasingan di tahun 1855 M.


5. Perang Aceh ( 1873 – 1942 )

Undang-Undang Dasar Kerajaan Aceh Darussalam yang disebut dalam ”Kanun Maukuta Alam” adalah berdasarkan Hukum Islam yang bersumber pada Al-Qur’an, Al-Hadits, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas.

Filsafat kehidupan rakyat Aceh yang amat terkenal di antaranya adalah salah satu ungkapan dalam Hadih Maja yang berbunyi :
” Hukoom ngon adat, lague zat ngon sifeut ”
Artinya : ” Hukum agama dengan hukum adat, laksana zat dengan sifat ”.

Ungkapan lainnya :

” Al-Jihadu wajibun ‘alaikum, that muphon wehe syedara : Phon cahdat, ngon seumayang, teulhee tamuprang ngon Holanda ”.
Artinya : ” Jihad itu wajib atas kamu sekalian, pahamilah baik-baik wahai sahabat. Yang pertama Syahadat, dan ( yang kedua ) Shalat, yang ketiga PERANG dengan (melawan ) Belanda ”.

Semangat Jihad menegakkan Islam telah membuat kaum muslimin Aceh begitu gigih melakukan perlawanan terhadap Belanda, sehingga tiada hari tanpa jihad di Aceh sejak upaya Belanda menguasai Aceh pada tahun 1873 hingga kekalahan Belanda dari Jepang di tahun 1942. Selama 70 tahun, kaum muslimin Aceh mengobarkan api Jihad melawan kaum kafirin Belanda.

Islam sebagai dasar hukum Kerajaan Aceh, sebutan Darussalam baginya, filsafat Islami kehidupan rakyatnya, semua itu menjadi bukti tak terpungkiri bagi keislaman Aceh yang begitu mendasar dalam tiap langkah perjuangannya.


6. Perang Riau ( 1782 – 1784 M )

Dalam buku Salasilah Indra Sakti yang ditulis oleh Luqmanul Hakim Putra, saya mendapatkan keterangan bahwa Kesultanan Riau berdiri pada tahun 1722 M di bawah kepemimpinan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, cucu dari Raja Abdul Jalil Riayatsyah yang menjadi Raja Johor ( 1699 – 1719 M ). Sebelumnya adalah bagian dari Kerajaan Johor.

Semula pusat pemerintahan Kesultanan Riau ada di Daik, pulau Lingga, yang dikenal dengan sebutan Tanah Bunda Melayu. Baru pada tahun 1900 M dipindah ke pulau Penyengat yang letaknya berhadapan dengan Tanjung Pinang di pulau Bintan.

Selama puluhan tahun Belanda berusaha menguasai Riau, namun benteng pertahanan laut di Kepulauan Riau sangat kokoh dan tangguh hingga sulit ditembus oleh musuh. Akhirnya meletus perang besar selama dua tahun antara Kesultanan Riau dan Belanda pada tahun 1782 hingga 1784 M. Namun demikian semangat jihad masyarakat Riau bersama para Sultannya membuat Belanda tetap belum mampu menguasai Riau. Baru pada tahun 1911 M, setelah perang habis-habisan, Belanda menguasai Kesultanan Riau secara mutlak.

Kesultanan Riau sejak berdiri sudah menjadikan Islam sebagai identitasnya. Bahkan tercatat dalam sejarah bahwa Kesultanan Riau pernah memiliki seorang Ulama besar yang menjadi Yang Dipertuan Muda dari tahun 1844 hingga 1857 M, yaitu Raja Ali Haji.

Raja Ali adalah seorang Ulama, Pujangga, Budayawan, Ahli Siasat dan Pemerintahan. Dari tangannya dihasilkan karya-karya besar, antara lain :

1. Ats-Tsamarat Al-Muhimmah, yaitu kitab pegangan para pejabat pemerintahan.
2. Muqaddimah fil Intizham, yaitu kitab undang-undang kesultanan.
3. Bustanul Katibin, yaitu kitab Kamus Bahasa Melayu.
4. Tuhfatun Nafis, yaitu kitab sastra sejarah.
5. Gurindam Dua Belas, yaitu kitab syair melayu tentang nasihat agama.

Semua ini menjadi bukti tak terpungkiri tentang kelekatan Kesultanan Riau dengan ajaran dan perjuangan Islam. Bahkan jika kita perhatikan isi kandungan Gurindam Dua Belas yang kini menjadi filsafat kehidupan bangsa Melayu, tidak lain dan tidak bukan adalah intisari ajaran Islam. Di sini kita kutip beberapa diantaranya :
a. Pada pasal pertama bait pertama :
Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilangkan nama

b. Pada pasal keempat bait pertama :
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jika zalim segala anggota pun rubuh

c. Pada pasal kelima bait pertama :
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihatlah kepada budi dan bahasa

d. Pasal kedua belas bait ketiga :
Hukum ‘adil atas rakyat
Tanda Raja beroleh ‘inayat


Dengan demikian, tidak benar kalau dikatakan kita tergesa-gesa dalam perjuangan, karena gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang ada saat ini hanya merupakan tindak lanjut dari perjuangan sebelumnya yang jauh sejak lama telah dilakukan oleh para ulama pembawa Islam di Indonesia. Jadi kita bukan perintis mau pun pelopor, kita hanya penerus perjuangan para pendahulu. Jika ada yang mengatakan Indonesia Tidak Pernah Menerapkan Syariat Islam… itu BOHONG… ini BUKTINYA !!! jadi tiap-tiap kita BERKEWAJIBAN menghidupkannya kembali !

Ditulis oleh : Muhammad Rizieq Husein Syihab 

* ”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab 40)


NOTE : Konten blog ini diluar dari tanggung jawab dari Yayasan Al Mukhlasin 'Ibadurrohman.

Kunjungi pula : 
1. Ya Ibad Internasional 
2. Facebook Guru Besar Ya Ibad 
3. Ya Ibad di Google Plus
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Wednesday, December 28, 2011

Saturday, December 10, 2011

Pesawat A-10 Thunderbolt II

Ya Ibad ~ Inilah sosok pesawat A-10 Thunderbolt II milik AS, bentuknya cukup aneh jika dibanding pesawat jenis lain, terutama letak mesin turbo fan TF34-GE-100 yang ada di bagian belakang. Biar begitu, pesawat ini memang dirancang untuk menjadi mesin pembunuh tulen, simak saja bagian sayap, jika pesawat lain umumnya hanya memiliki 4 pilon cantelan senjata, si Thunderbolt punya 10, yang bisa dicanteli beragam senjata hingga bobot 7 ton, dari roket, bom pancar Mk 20 Rockeye, rudal udara ke udara AGM 65D Maverick, DLL. 

Belum cukup, masih ada kanon gatling yang terletak di bawah hidungnya, yang mampu memuntah-kan 2.100 peluru/menit sekali tarik picu. Peluru gatling GAU-8/A ini berukuran 30mm dan dilapisi titanium-depleted uranium, sehingga menjadi momok mengerikan bagi pasukan lapis baja.


Akan tetapi, di balik segala kecanggihan dan keganasannya, ternyata pesawat ini agak rabun. Terbukti dengan kejadian di Irak (31/3), saat dua Scimitar (kendaraan lapis baja ringan) milik Inggris dibuat berantakan, dibabat habis kawan sendiri, Thunderbolt AS.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Saturday, December 10, 2011

Survival

Ya Ibad ~ Seorang pejuang dituntut untuk selalu siap menghadapi segala situasi, bahkan untuk situasi terburuk sekali pun. Dan karena setiap kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, maka orang yang cerdas pasti akan melakukan persiapan kapan pun dia bisa. Dia tidak akan menunggu hingga hal yang buruk terjadi. Namun segera memanfaatkan waktu luangnya sebelum tiba waktu sempitnya. Di sinilah urgennya sebuah i’dad dalam jihad, baik maadi (fisik) atau maknawi (non-fisik), sehingga Alloh ‘Azza wa jalla mengingatkan kita untuk melakukan persiapan apa pun, kapan pun dan di mana pun sesuai kemampuan kita.

Survival, yang merupakan teknik mempertahankan hidup dalam keadan minim dan toleransi rendah, merupakan ketrampilan yang wajib diasah oleh para mujahidin yang menyadari akan beratnya beban yang dipikul. Amanah yang ada dipundaknya bisa saja ‘menyeretnya’ ke dalam keadaan darurat dan penuh bahaya, sehingga sejak jauh hari hendaknya dia telah mempersiapkan segalanya, fisik dan mentalnya, termasuk kemampuan mempertahankan hidup lewat teknik Survival.

Kata ‘survival’ ibarat kata kunci, yang tersusun dari 8 huruf: S-U-R-V-I-V-A-L dan setiap huruf mewakili makna berbeda. Pelajari dan ingatlah kata ini, karena insya Allah akan banyak membantu anda di kala darurat.

SURVIVAL

Hal pertama yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat adalah menghitung dan memperhatikan keadaan. Jika anda dalam suasana perang, carilah segera tempat yang aman untuk bersembunyi dari musuh. INGAT, keamanan adalah segala-galanya. Gunakan seluruh indra yang kita miliki, pendengaran, penglihatan, penciuman. Jadilah orang yang sensitif dan waspada, serta bacalah tanda-tanda alam, untuk bisa mengetahui keadaan peperangan, terutama aktivitas musuh.

Perhatikan Keadaan di Sekitar Anda
Tentukan gambaran alam disekitar anda. Dan cari tau apa yang ada di sekitar anda. Setiap lingkungan memiliki bentuk, gambaran, dan irama tersendiri, baik itu hutan, gurun, medan bersalju dan lainnya. Seperti suara burung, binatang, serangga, jejak kaki orang, dan hal lain yang mencurigakan. Anda harus sensitif !

Perhatikan Kondisi fisik Anda
Tekanan perang, atau luka yang diderita bisa membuat keadaan bertambah buruk. Periksalah keadaan anda, jika ada luka, segera lakukan pertolongan pertama. Hati-hatilah, supaya luka itu tidak bertambah parah. Secara umum, dalam keadaan gawat apa pun, usahakan untuk segera minum air sebanyak-banyaknya untuk menghindari gejala dehidrasi. Jika anda dalam lingkungan yang dingin atau basah, pakailah pakaian tambahan untuk menghindari hipotermia.

Perhatikan Perlengkapan Anda
Dalam keadan perang, terkadang kita kehilangan beberapa peralatan atau mungkin rusak. Cek perlengkapan anda, apa saja yang anda punya dan bagaimana kondisinya.

Selesai sudah langkah pertama, anda telah memperkirakan keadaan, mengecek lingkungan sekitar, kondisi fisik dan perlengkapan anda. Kini anda siap untuk melakukan langkah survival selanjutnya. Dan INGAT, hal terpenting yang dibutuhkan tubuh kita adalah air, makanan, dan tempat berlindung (selther).**
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Saturday, December 10, 2011

Perlindungan, Persembunyian dan Kamuflase

Ya Ibad ~ Dalam medan perang, sebisa mungkin kita harus menghindari pantauan musuh, karena jika mereka berhasil melihat kita, maka dengan mudah mereka bisa menyerang kita. Karena itu, kita harus membuat diri kita, posisi kita dan peralatan kita selalu tersamar atau tersembunyi, di sinilah pengetahuan tentang cover (perlindungan), concealment (persembunyian), dan camouflage (kamuflase/penyamaran) dibutuhkan.

Cover dalam bahasa kita bisa disebut pelindung, yaitu apa saja yang bisa memberikan perlindungan pada kita dari tembakan musuh, ledakan, efek nuklir atau biologi. Cover juga bisa memberikan ruang untuk bersembunyi dari pengamatan musuh. Cover terbagi dua, alami atau buatan. Cover alami seperti pohon, batu, jurang, parit dll. Sedangkan cover buatan seperti tembok, bunker, atau posisi tempur itu sendiri, seperti tiarap dan merangkak.

Dalam medan perang, kita harus waspada dari serangan musuh baik yang langsung maupun tidak. Karena itu, dalam posisi bertahan (defensif) kita sebaiknya membuat cover buatan untuk menambah kekuatan cover alami yang sudah ada. Bisa dengan menggali parit atau bunker. Sedangkan dalam posisi serang (ofensif), seperti ketika bergerak, maka gunakanlah jalur yang bisa memberikan perlindungan dari serangan musuh, atau pengamatan mereka, seperti dengan menyusuri lembah, lewat jalur pepohonan dll, jauhi tempat terbuka atau berdiri di puncak gunung agar bayangan kita tidak tertangkap oleh pengamatan musuh. (**).
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Saturday, December 10, 2011

Mengenal AK - 47

Ya Ibad ~ AK-47 dirancang pertama kali oleh Mikhail Timoovefich Kalashnikov, yang dari namanyalah senjata ini dinisbatkan; Avtomat Kalashnikov, yang dipakai dan ditetapkan pada tahun 1947.

AK-47
merupakan senapan tempur bertenaga gas, gas ini didapatkan dari letupan mesiu yang ada di peluru. Ketika senapan ditembakkan dan peluru yang meledak bergerak di dalam laras, menimbulkan gas yang mendorong piston yang terdapat di atas laras, yang akan mengeluarkan selongsong peluru dan memasukkan peluru berikutnya ke dalam chambre.

AK-47 memiliki kaliber 7,62 mm, dengan kapasitas magazen 30 peluru, memiliki jarak efektif  sekitar 300m, kecepatan peluru sekitar 710m/detik dan energi sebesar 1.992 joule. Dilengkapi dengan tuas selector untuk pilihan tembakan semi otomatis dan otomatis.


AK-47 awalnya diproduksi oleh Izhevsk Mechanical Works di Rusia,tapi kini senjata ini banyak diadopsi, bahkan di produksi ulang di banyak negara, dengan lisensi atau tanpa lisensi. .(zon)

Cara Menggunakan AK-47


Untuk menggunakan AK-47, pastikan magazen berisi peluru, lalu tariklah tuas kokang untuk memasukkan peluru pertama ke dalam chambre, pastikan tuas selektor tidak dalam posisi save (terkunci), karena itu turunkanlah hingga ke tengah.

Letakkan popor dengan mantap di bahu, genggam erat pistol grip dengan 4 jari anda, dan letakkan telunjuk pada triger. Sangga senapan dengan cara memegang fore grip, jangan terlalu kuat, sekedar cukup untuk menahan goncangan senapan, memegang terlalu dekat dengan magazen juga tidak dianjurkan. Lalu bidiklah sasaran, dan tariklah triger.

Pada setingan ini, senapan akan terus menembak sampai peluru habis atau anda melepas triger (full auto), jika anda menurunkan selektor pada posisi paling bawah, maka tembakan menjadi semi auto (satu tarikan triger = satu tembakan). Selamat mencoba ☺ (**)
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Saturday, December 10, 2011
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)
YA IBAD :

About Me

Unknown
View my complete profile

Entri Populer

  • Perang Salib Pertama dan Jatuhnya Yerusalem
    Ya Ibad ~ Ditandai oleh nafsu dunia mulai merasuk jiwa, membutakan hati dan menutup pintu bakti (taqwa), dan ummat mulai menyarungkan pe...
  • Berdakwah Tanpa Ilmu
    Ya Ibad ~ Da’wah harus didahului dengan ilmu, karena siapa yang berda’wah tanpa ilmu maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperba...
  • Sholat Gerhana / Sholat Khusuf
    Ya Ibad ~ Sesuai dengan tuntunan Nabi SAW, umat Islam dianjurkan untuk melakukan shalat sunah gerhana. Selain itu, umat Islam dianjurkan...
  • Serangan Tartar dan Kehancuran Baghdad
    Ya Ibad ~ Baghdad, ibukota kekholifahan Dinasti Abbasiyah akhirnya runtuh ! Dg brutal pasukan Tartar menghancurkan semua sudut kota, me...
  • Memahami Makna Thaghut
    Bismillahirrohmanirrohiim.  Alhamdulillahirrrobbil 'alamiin.  Allohuma sholli 'ala muhammad wa 'ala aali muhammad. Ya ...
  • Tanda-Tanda Mati Syahid Menurut Al Qur'an dan Al Hadist
    Di dalam kitab Ahkamul Janaiz, syaikh Nashiruddin Al Albani, mengumpulkan Tanda-Tanda Mati Syahid dari Al Qur’an dan Sunah shahihah , bel...
  • PENGKHIANAT LICIK NAN CULAS di YA IBAD
    Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Setelah tahmid, tasbih, tahlil dan sholawat, ADA MUNAFIK, PENGKHIANAT LICIK NAN CULAS ...
  • Tauhid Menolak Sekularisme
    Jamaah Ya Ibad yang saya hormati, tetaplah zikrulloh dan husnuzhon (berprasangka baik) kepada Alloh. Salah satu Isme yang wajib dito...

Labels

  • Syariat
  • BukaMata
  • Tauhid
  • Mujahadah
  • Dakwah Wal Jihad
  • Hisbah
  • Thoghut
  • Tokoh
  • TazkiyatunNafs
  • Meluruskan
  • Sepilis
  • Sekulerisme
  • Konsultasi Spiritual
  • Liberalisme
  • Pluralisme
  • Download
  • Buku Tamu
  • Mukadimah
  • Muktamar Ya Ibad
  • Ya Ibad

Kirim Pertanyaan - Konsultasi

Name

Email *

Message *

Copyright 2013 Ya Ibad - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates