Ya Ibad

Blog Guru Besar Ya Ibad

  • Home
  • Mukadimah
Home » Liberalisme
Showing posts with label Liberalisme. Show all posts
Showing posts with label Liberalisme. Show all posts

Sunday, March 4, 2012

Kerancuan Wacana Agama Samawi

Di Indonesia, teori abrahamic faiths menjadi konsumsi kelompok mahasiswa Islam. Bahkan ada yang menggunakan lambang agama Bintang David, Salib, dan Bulan Sabit

Oleh: Kholily Hasib*

SUDAH lama beredar pemahaman di sebagian umat Islam, bahwa agama Yahudi dan Kristen termasuk agama samawi. Beberapa buku pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk sekolah menengah bahkan ada yang mengajarkan hal demikian.

Kaum pluralis beralasan  mereka termasuk agama samawi, sebab Yahudi-Kristen memiliki akar yang sama dengan Islam. Sehingga perbedaan antara Islam dan Yahudi-Kristen adalah seperti perbedaan furu’iyah.

Perbedaan tajam ritual keagamaan di antara mereka itu bukanlah persoalan fundamental, sebab secara konseptual, teologi ketiga agama semitik ini, menurut mereka, adalah sama, yakni sama-sama bersumber dari ajaran Nabi Ibrahim.

Inilah inti dari teori the abrahamic faiths yang saat ini diwacanakan dan dikembangkan kaum Liberal untuk menjustifikasi bahwa agama Yahudi, Kristen, dan Islam secara teologis tidak ada masalah.

Plural Liberal

Sudah maklum dalam dunia pemikiran bahwa salah satu doktrin utama gerakan liberalisasi keagamaan adalah paham pluralisme. Untuk menjustifikasi paham ini, salah satu cara yang ditempuh kaum pluralis adalah dengan mewacanakan secara global istilah abrahamic faiths.

Bagi sebagian orang, istilah ini kedengarannya baru. Namun sebenarnya, term ini di kalangan pemerhati pemikiran sudah populer sejak tahun tujuh puluhan. Yakni, ketika Akademi Agama-Agama Amerika mengadakan konferensi yang dihadiri tokoh-tokoh besar dunia dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam di New York pada 1979. Sejak itulah, term ini terus diwacanakan.

Di Indonesia, teori abrahamic faiths telah menjadi konsumsi oleh kelompok-kelompok mahasiswa Islam. Di sebuah perguruan tinggi Islam ternama di Yogjakarta misalnya, terdapat komunitas tersebut. Mereka biasanya menggunakan lambang agama Bintang David, Salib dan Bulan Sabit dalam satu kesatuan simbol abrahamic faiths.

Simbol itu memberi makna bahwa ketiga agama tersebut bersaudara, karena berasal dari akar yang sama, yakni Nabi Ibrahim. Karena sama, maka bagi penikmat teori ini, berpindah-pindah agama dari satu ke yang lainnya tidak masalah.

Teori abrahamic faiths ini mendasarkan pada dua asumsi. Pertama, asumsi historis (kesejarahan) dan kedua, asumsi teologis (ketuhanan). Secara historis, agama Yahudi, Kristen, dan Islam, bermuara kepada sosok Nabi Ibrahim. Karena, dari anak-anak Nabi Ibrahim inilah agama-agama tersebut lahir. Nabi Ishak, anak Nabi Ibrahim menurunkan bani Israel. Dari nabi-nabi keturunan bani Israel inilah melahirkan agama Yahudi dan Kristen. Sedangkan agama Islam, dibawa oleh Nabi Muhammad jalur nasabnya bersambung kepada anak Nabi Ibrahim yang bernama Nabi Isma’il.

Sedangkan secara teologis, mereka berasumsi bahwa oknum Tuhan ketiga agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah sama – meskipun terdapat perbedaan penyebutan Tuhannya. Tuhan Yahweh (Tuhan agama Yahudi), Yesus (Kristen), dan Allah (Islam), adalah tuhan-tuhan yang disembah oleh Nabi Ibrahim.

Asumsi-asumsi tersebut tentunya tidaklah benar dan rancu. Nabi Musa serta nabi-nabi dari bani Israel lainnya tidak pernah menyebut agama dengan nama Yahudi. Jika Yahudi adalah nama bangsa dari kaum bani Israel, maka ini tidaklah salah. Yang salah adalah agama para nabi tersebut disebut dengan agama Yahudi. Begitu pula Nabi Isa, selama hidupnya tidak mengenalkan kepada kaumnya bahwa agama yang dibawa adalah agama Kristen.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran surat al-Anbiya’: 25 bahwa agama yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul pada dasarnya adalah satu. Allah tidak pernah menurunkan dua atau tiga agama berbeda. Dan Allah tidak memaksudkan keterputusan total atau penggantian agama-Nya dengan kedatangan nabi-nabi baru.

Agama para nabi itu oleh Al-Quran disebut agama Tauhid, din al-Fitrah, atau din al-Qayyim. Secara esensial nama-nama tersebut menandakan nama Islam. Sebab antara din al-fitrah atau din al-Qayyim dengan agama Islam itu esensinya mengajarkan tiga hal pokok, yaitu mengajak menyembah kepada Allah tanpa menyekutukannya, menegaskan kebenaran yang telah diajarkan oleh para nabi terdahulu, serta menegaskan kebenaran final ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran bahkan menyebut Nabi Ibrahim, Nabi Yunus, dan nabi-nabi bani Israel lainnya dengan sebutan Muslim (lihat QS. Yunus 71-72 ,Yunus: 84, Ali Imran: 67, al-Naml: 44, dan Ali Imran: 52). Maka, meskipun Allah tidak memberi nama agama para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW itu dengan nama Islam, tapi Ibnu Taimiyah dalam al-Jawab al-Shahih liman Baddala din al-Masih menyebut agama para nabi tersebut dengan al-Islam al-‘aam. Esensi doktrin teologinya sama, namun yang  berbeda adalah syari’ah – yang kemudian disempurnakan oleh agama Islam.

Bukan agama samawi

Agama Yahudi dan Kristen tidaklah dikenal oleh para nabi sebelum Nabi Muhammad. Dua agama tersebut bukanlah samawi, akan tetapi bisa disebut agama budaya. Doktrin utama agama Yahudi saat ini, menurut Prof. Dr. Muhammad al-Syarqawi, peneliti dan pakar kitab Talmud dari Universitas Kairo, bermula saat  setelah ditulis kitab Torakh (Perjanjian Lama) dan Talmud oleh para murid nabi Musa dan orang-orang setelahnya.

Menurut as-Syarqawi, ajaran-ajaran agama Yahudi banyak yang bersumber dari Talmud yang bermuatan ajaran-ajaran pagan, rasialis, dan penuh hinaan kepada umat-umat lain. Bahkan seorang pemuka Yahudi, Rabi Rotski, mengakui bahwa kitab Talmud itu tidak ditulis oleh Nabi Musa, akan tetapi oleh para rabi-rabi Yahudi (lihat kitab Israil al-Aswad karya Muhammad al-Syarqawi).

Dzat Tuhan Yahweh (Tuhan agama Yahudi) tidak mungkin disamakan dengan Tuhan Allah. Ahmad Syalabi, pakar perbandingan agama, mengatakan bahwa tradisi penyembahan agama Yahudi dipengaruhi oleh bangsa Kan’an – yaitu bangsa yang dahulu mendiami wilayah Palestina. Nama Yahweh, menurut beberapa pakar sejarah Barat sendiri adalah nama yang berasal dari luar tradisi Yudaisme. Nama itu konon, berasal dari tradisi paganisme kaum Median dan Kan’an – yakni bangsa penyembah berhala sebelum kedatangan Nabi Musa.

Ketika mendiami wilayah mereka, bangsa Israel banyak meniru tradisi budaya bangsa Median, termasuk tradisi keagamaannya. Para pakar lainnya, seperti Harold Bloom, Freedman, dan Abbas Mahmud al-Aqqad mengamini bahwa nama Yahweh adalah misteri, bersifat dugaan, dan tidak diketahui secara pasti apakah itu nama Tuhan Nabi Musa atau tidak.

Ada yang menyebut, berasal dari bahasa Arab Ya Hu (wahai Dia). Pendapat ini pun belum bisa diverifikasi secara ilmiah. Karena tidak jelas, maka orang-orang Yahudi menulis Yahweh dengan simbol YHWH – yang bermakna nama itu tidak pernah diucapkan dengan jelas dalam tradisi peribadatan Yahudi. Dengan demikian, sebenarnya Yahweh itu bukanlah Allah, dan ini berarti pula bahwa monoteisme Yahudi berbeda dengan monoteisme Islam.

Sedangkan Kristen, adalah sebuah nama yang dideklarasikan oleh Paulusus di kota Antiokhia (sekarang wilayah Turki) – Nabi Isa tidak pernah mengenalkan nama Kristos atau menyebut dirinya anak Tuhan. Kristen adalah agama yang bangunan dasar teologinya didirikan oleh Paulusus, seorang Yahudi yang mengaku-ngaku Rasul. Tepatnya sekitar enampuluh tahunan setelah keghaiban Nabi Isa, terjadi penyimpangan, hingga datanglah Paus yang memberi nama pengikutnya dengan nama Kristen.

Oleh karena itu Kristen adalah agama budaya, bukan agama samawi. Sehingga wajar bila pondasi teologinya selalu berkembang bermetamorfosis. Seperti konsep trinitas yang disahkan melalui konsili Nicea, tidak melalui wahyu. Sehingga sarjana-sarjana Barat sendiri mengakui akan hal itu. Michael H. Hart, asal AS mengatakan bahwa yang mendirikan Kristen itu bukanlah Yesus, tapi Paulusus.

Hart berpendapat demikian karena dia yakin bahwa Pauluslah yang menciptakan konsep trinitas – yaitu konsep yang sangat bertentangan dengan konsep monoteisme yang diajarkan Nabi Isa. Huston Smith dalam The Religions of Man juga menyimpulkan hal yang sama, bahwa Kristen adalah agama budaya.

Dengan demikian, klaim bahwa agama Yahudi dan Kristen bersumber dari Yahudi adakah tidak betul. Secara ideologis, sangat jauh berbeda dengan teologinya Nabi Ibrahim yang berkonsep Tauhid. Maka, Islam tidak bisa disejajarkan dengan Yahudi-Kristen sebagai satu kelompok agama abrahamic.

Islamlah satu-satunya pewaris millah Ibrahim dan satu-satunya agama samawi. Penggunaan term abrahamic faiths tidaklah tepat ditujukan kepada ketiga agama. Karena, agama Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lainnya cuma satu, yaitu agama tauhid. Wallahu a’lam bisshawab

*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor. Tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah Gontor
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Sunday, March 04, 2012

Sunday, January 8, 2012

Prinsip Toleransi Beragama dalam Peradaban Islam

Ya Ibad ~ Dalam situs resmi Ya Ibad terdapat sebuah tulisan berjudul : Prinsip Toleransi Beragama dalam Peradaban Islam. Tulisan ini diposting pada Jumat, 16 Desember 2011 - 22:31:10 WIB. Oleh Administrator. dan dimasukkan dalam Kategori : Agama Islam.

Baiklah kami kutipkan saja posting (yang akan kami koreksi) tersebut di sini:
=================
Prinsip Toleransi Beragama dalam Peradaban Islam

Islam telah mendirikan peradaban kita tetapi Islam tidak melecehkan agama-agama terdahulu dan tidak fanatic menghadapi pendapat-pendapat dan mahzab-mahzab yang beraneka macam. Bahkan Islam mempunyai semboyan tersendiri, mengenai hal ini yang tertuang di dalam Al Quranul Karim :

…Maka sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hambaKu, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya… (QS. Az-Zumar : 17-18).

Karena itu, di antara prinsip-prinsip peradaban kita dalam toleransi keagamaan adalah :

1. Agama-agama samawi (langit) semua bersumber dari satu Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an :

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwariskanNya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu terpecah-belah tentangnya…” (QS. Asy Syuura : 13).

2. Nabi-nabi adalah bersaudara, kaum muslimin wajib beriman kepada mereka semua. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya :

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin) : “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim,Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan-Nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah : 136)

3. Aqidah tidak dapat dipaksakan penganutannya, bahkan harus mengandung kerelaan dan kepuasan. Allah sudah menerangkan kepada kita :

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).. (QS. Al Baqarah 256)

…Patutkah engkau hendak paksa manusia sampai mereka jadi Mu’minin ? (QS. Yunus: 99)

4. Tempat-tempat ibadah bagi agama-agama Ilahi adalah terhormat, wajib dibela dan dilindungi seperti masjid-masjid kaum muslimin.

“…dan sekiranya tidak Allah melindungi manusia sebahagian dari mereka dengan sebahagiannya, niscaya dirubuhkan tempat-tempat pertapaan dan gereja-gereja Kristen dan tempat-tempat sembahyang Yahudi dan masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah padanya; dan sesungguhnya Allah akan menolong siapa yang menolong (agama)-Nya..”        
(QS. Al Hajj : 40).

5. Tidak selayaknya perbedaan dalam agama menyebabkan manusia saling membunuh atau saling menganiaya satu sama lain. Bahkan kita harus saling menolong dalam berbuat kebaikan dan memerangi kejahatan. Allah Ta’ala menerangkan kepada kita :

“…Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..” (QS. Al Maidah : 2).

Adapun keputusan mengenai perselisihan di antara mereka, Allah sendirilah yang menghakiminya kelak di hari kiamat.

“Dan orang-orang Yahudi berkata : “Orang-orang Nasrani itu tidak atas sesuatu (jalan yang benar)”, dan orang-orang Nasrani berkata : “Orang-orang Yahudi tidak atas sesuatu (jalan yang benar)”, padahal mereka membaca Kitab. Begitu juga orang-orang yang tidak mengetahui, berkata seperti perkataan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat tentang apa-apa yang mereka perselisihkan.” (QS. Al baqarah ; 113).

6. Kelebihutamaan di antara manusia dalam kehidupan dan di sisi Allah sesuai dengan kadar kebaikan dan kebajikan yang dipersembahkan seseorang dari mereka untuk dirinya dan untuk sesamanya. Allah berfirman :

“..Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu..(QS. Al Hujurat : 13).

7. Perbedaan dalam agama tidak menghalangi kita dalam berbuat kebaikan, silaturahmi, dan menjamu tamu.

“Pada hari ini dihalalkan bagimu (barang) yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula bagi mereka). (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu..” (QS. Al Maidah 5)

8. Jika manusia berselisih pendapat mengenai agama-agama mereka maka mereka boleh berdebat satu sama lain dengan cara yang paling baik dan dalam batas-batas kesopanan, dengan argumentasi dan memberikan kepuasan (kemantapan).

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka..” (QS. Al Ankabut : 46)
Kita juga tidak boleh mencela lawan yang berselisih atau mencaci aqidah mereka meskipun mereka kaum paganis (penyembah berhala). Hal ini diutarakan dalam Al-Qur’an :

“ Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan..”
(QS. Al an’am 108)

=================demikian apa yg tertulis di sana=====

Terlihat dalam tulisan tersebut ada 8 point Prinsip Toleransi Beragama dalam Peradaban Islam.

Sebagai Guru Besar Ya Ibad, pertama, kami bangga dengan keberanian sampeyan untuk menulis pada situs resmi Ya Ibad. Teruslah sampeyan menulis! Kedua, kami sangat menyesalkan terbitnya tulisan sampeyan  tersebut. Tulisan sampeyan masih mentah dan asal tulis tanpa didahului dengan penelitian dan pengkajian yang mendalam dan menyeluruh (holistik dan komprehensif) terhadap ajaran Islam. Terus terang saja, Kami tak pernah mengajarkan 8 point tersebut kepada Jemaah Ya Ibad. Darimana sampeyan bisa mempunyai pemahaman yg terinfeksi virus "SEPILIS" tsb ?!

Berikut ini adalah sedikit koreksi dari kami terhadap point pertama dan selanjutnya point ke-empat tulisan "Prinsip Toleransi Beragama dalam Peradaban Islam" tsb  :

Tulisan tersebut memenggal ayat sembarangan sehingga menjadi kabur makna sebenarnya. Ini merupakan kebiasaan dari kaum liberal, mendistorsi ayat suci! Boleh saja memenggal ayat dalam tulisan, asalkan sampeyan yakin tidak akan terjadi distorsi dari maksud / makna yg sebenarnya. Karena jika terjadi distorsi dari maksud dan makna sebenarnya, maka sampeyan telah melakukan penyesatan.

Pada point pertama sampeyan menulis,

"Agama-agama samawi (langit) semua bersumber dari satu Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an :

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwariskanNya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu terpecah-belah tentangnya…” (QS. Asy Syuura : 13)."

Demikian Point Pertama yg sampeyan tulis. Sedangkan pada point ke-empat, sampeyan menegaskan kembali pluralitas agama samawi dengan istilah : "agama-agama Ilahi"

Apakah yg dimaksud dengan agama samawi ? Apakah sampeyan mengira bahwa Yahudi dan kristen adalah agama yang Alloh turunkan dari langit ? sayangnya sampeyan tak menjelaskan dengan gamblang. Agama-agama Samawi hanya sampeyan jelaskan dalam "tanda kurung" yang berisi langit. Maka setiap pembaca akan memaknai agama-agama samawi dengan "agama-agama langit". Dan tertulis dengan pengulangan "agama-agama samawi". Setiap pembaca akan memaknai bahwa agama samawi berjumlah lebih dari satu (plural). Ini sebuah kekeliruan besar !

Agama samawi hanya satu yaitu agama yang diturunkan Alloh swt kepada kepada para Nabi dan Rosul, disempurnakan pada Ibrohim, disempurnakan pada Musa, disempurnakan pada Isa, dan terakhir disempurnakan pada Muhammad SAW, yaitu agama Tauhid yg hanif, yaitu Islam. Agama samawi dalam pengertian ini sering pula disebut sebagai "Millah Ibrohim".

“Ibrohim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67)

Ya Ibad tentu saja harus menyambut baik setiap usaha untuk menciptakan toleransi dan perdamaian antara pemeluk-pemeluk agama di muka bumi. Namun, Jemaah Ya Ibad perlu mengkaji dengan cermat, cara-cara yang digunakan untuk menciptakan toleransi dan perdamaian tersebut, khususnya dalam hal yang berkenaan dengan ajaran Islam itu sendiri. Soal dialog antar-agama, dalam sejarah, sebenarnya bukanlah hal yang baru di dalam Islam. Sejak awal kemunculannya, umat Islam sudah terbiasa berdialog dengan siapa saja. Di Mekah, sebelum hijroh, Rosululloh saw dan para sahabat sudah berdialog dengan kaum musyrik Arab dan pengikut Kristen. Saat hijroh ke Habsyah, Ja’far bin Abdul Muthalib sudah berdialog keras dengan pengikut Kristen dan juga Raja Najasyi yang ketika itu masih memeluk agama Kristen. Di Madinah, Rosululloh saw melayani perdebatan dengan delegasi Kristen Najron.

Perhatikan lanjutan ayat QS. Asy Syuura ayat 13 yg sampeyan tulis di atas:

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ’Isa yaitu: Tegakkanlah agama [Islam] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya (Islam). Allah menarik kepada agama itu (Islam) orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada [agama]-Nya orang yang kembali [kepada-Nya]. (13)

Dan mereka [ahli kitab] tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya [untuk menangguhkan azab] sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab [Taurat dan Injil] sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu. (14)

Maka karena itu serulah [mereka kepada agama itu / Islam] dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali [kita]" (15)

Dan orang-orang yang membantah [agama] Allah sesudah agama itu (Islam) diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan [Allah] dan bagi mereka azab yang sangat keras. (16)

Silakan sampeyan renungkan, banyak ayat Al-Quran yang senantiasa mengajak kaum Yahudi dan Kristen untuk berdialog.  Tetapi, jika sampeyan baca ayat-ayat Al-Quran, tentang masalah ini, sampeyan akan menemukan, bahwa posisi Al-Quran senantiasa jelas, yaitu posisi menyeru kaum Yahudi-Kristen agar kembali kepada kalimah tauhid, kembali kepada ajaran inti yang dibawa oleh para nabi, yaitu ajaran Tauhid. Dalam ayat lain, Misalnya, QS Ali Imron ayat 64 menyebutkan:

”Katakanlah, wahai Ahlul Kitab, marilah kita kembali kepada ’kalimah yang sama’ (kalimatin sawa’) antara kami dan kalian semua, bahwa kita tidak menyembah selain Alloh dan tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun dan kita tidak menjadikan sebagian diantara kita sebagai tuhan selain Alloh. Jika mereka kafir (ingkar), maka katakan : saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Islam (Muslim).”

Sebagai Muslim, Jemaah Ya Ibad harus yakin, bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang menegaskan kembali ajaran tauhid yang dibawa para nabi sebelumnya. Jamaah Ya ibad harus meyakini, bahwa semua Nabi, termasuk Nabi Ibrohim juga membawa ajaran tauhid. Karena itu, ’millah Ibrohim’, dalam pandangan Islam, adalah agama tauhid. Dan saat ini, satu-satunya agama Tauhid – dalam pandangan Islam – adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Maka, dalam perspektif Islam ini, istilah ”Agama-agama samawi” (agama-agama langit), dalam bentuk jamak yang memasukkan agama Yahudi dan Kristen sebagai ’millah Ibrohim’, adalah aneh dan keliru. Seolah-olah, ada banyak agama Ibrohim.

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali ‘Imran: 19)

“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembalikan?” (Ali ‘Imran: 83)

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)


Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.”
 

Jika sampeyan telusuri lebih jauh lagi, akan tampak kerancuan penggunaan istilah ”Agama-agama samawi” (millah Ibrohim) ini. Misalnya, dalam agama Yahudi (Judaism) dan Kristen (Christianity), terdapat begitu banyak sekte dan bahkan agama-agama yang berbeda-beda. Apakah semuanya juga ’millah Ibrohim’? Tentu tidak mungkin seperti itu. Sebab, agama Ibrohim adalah satu, dan yang satu itu adalah agama Tauhid.

Dalam hal inilah, sampeyan bisa melihat, banyaknya cendekiawan yang kurang hati-hati dalam mengadopsi istilah-istilah tertentu. Dalam perspektif netral agama, secara historis-fenomenologis, bisa saja Islam, Kristen, dan Yahudi dimasukkan ke dalam kategori Agama-Agama samawi, karena ketiganya memiliki klaim sebagai pewaris ajaran Ibrohim. Tetapi, Al-Quran sudah menjelaskan apa yang dimaksud dengan millah Ibrohim yang hanif. “Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrohim yang hanif.” (QS 4:125). “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).

Dengan penegasan Al-Quran itu, tidaklah tepat jika ada cendekiawan yang mengakui bahwa agama Kristen dan Yahudi saat ini termasuk ke dalam kategori "Agama samawi" / “millah Ibrahim” yang hanif. Jika kaum Yahudi dan Kristen mengklaim mereka sebagai pelanjut agama Ibrohim atau sebagai agama samawi, itu adalah urusan mereka. Tetapi, sebagai Muslim, seyogyanya pandangan sampeyan bersandar kepada konsep-konsep yang diajarkan dalam Al-Quran dan Assunnah.

Dalam konferensi tahun 1979, melalui makalah yang berjudul “Islam and Christianity in the Perspective of Judaism”, Michel Wyschogrod, profesor filsafat di Baruch College, City University, New York, memaparkan persoalan mendasar dalam pemahaman keagamaan antara Yahudi, Kristen, dan Islam. Yahudi dan Kristen bersekutu dalam Bibel (Perjanjian Lama). Tetapi berbeda secara mendasar dalam soal trinitas. Dengan Islam, Yahudi tidak bermasalah dalam soal pengakuan Tuhan yang satu (monotheism). Tetapi, Muslim memandang bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada Kitab Yahudi (juga Kristen).

Gambaran Prof. Michel Wyschogrod tentang Islam tersebut tidak sepenuhnya benar. Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme tidak sama dengan Tauhid. Istilah ini juga sering disalahpahami, seolah-olah monoteisme sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, tauhid adalah mengakui Alloh sebagai satu-satunya Tuhan dan ada unsur ikhlas, rela diatur tanpa syarat oleh Alloh SWT. Karena itu, jika orang menyembah Tuhan yang satu, tetapi yang ‘yang satu’ itu adalah Fir’aun, maka dia tidak bertauhid. Iblis pun tidak bertauhid, tetapi kafir, karena menolak tunduk kepada Alloh, meskipun dia mengakui Alloh sebagai satu-satunya Tuhan.

Dalam perspektif Islam inilah, memasukkan agama Yahudi (Judaism), sebagai ‘millah Ibrohim’ juga patut dipertanyakan. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai ‘Yahweh’. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.” Jadi, hingga kini, belum jelas, siapa nama Tuhan Yahudi.

Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi kehilangan jejak kenabian dan Tauhid, karena kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Th.C.Vriezen, dalam buku ”Agama Israel Kuno” (Jakarta: BPK, 2001), menulis, bahwa “Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.”

Dalam sejumlah buku studi Islam di Perguruan Tinggi, masih ada yang menulis bahwa agama Yahudi adalah agamanya Nabi Musa a.s. Bahkan, Prof. Harun Nasution, dalam buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, menyebut agama Yahudi sebagai agama yang memelihara kemurnian Tauhid. Padahal, agama nabi Musa adalah agama Tauhid yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad saw. Jika Yahudi memeluk agama Nabi Musa, pasti mereka akan menerima kenabian Muhammad saw. Al-Quran banyak menyebutkan tindakan kaum Yahudi yang mengubah-ubah kitab mereka, sehingga mereka keluar dari jalan kebenaran. (QS 2:59, 75, 79, dll).

Senada dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian Muhammad saw dan bahkan mengangkat status Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep ketuhanan Kristen ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, Al-Quran menyebutkan, bahwa Nabi Isa a.s. pernah menyeru Bani Isroil agar mengakuinya sebagai Rosul, utusan Alloh, dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw. Karena itulah, Islam memandang, kaum Kristen telah melakukan penyimpangan aqidah, karena mengangkat Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan, bukan sebagai utusan Alloh. Dengan konsep itu, mereka menolak untuk beriman kepada kenabian Muhammad saw. Segaimana kaum Yahudi, kaum Kristen di Barat tidak mengenal nama Tuhan mereka. Mereka hanya menyebut Tuhannya sebagai “God” atau “Lord”. Soal nama Tuhan, masih diperselisihkan, dalam agama Kristen.

Karena itu, dalam pandangan Islam, yang bisa dimasukkan ke dalam kategori sebagai ‘millah Ibrohim’ dan agama samawi saat ini, hanyalah agama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kaum Muslim begitu dekat dengan nabi Ibrohim a.s.. Setiap shalat, kaum Muslim membaca doa untuk Nabi Ibrohim. Begitu juga, salah satu hari raya umat Islam adalah hari raya Idul Adha yang terkait erat dengan kisah perjuangan dan perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s..

Dari sinilah, kita memahami, bahwa sebaiknya istilah “Agama-agama samawi / Abrahamic Faiths” tidak digunakan. Apalagi, dalam bentuk jamak (plural) yang menunjukkan bahwa ada banyak agama Ibrohim. Padahal, agama Nabi Ibrahim hanya satu, yaitu agama Tauhid, yang kemudian dilanjutkan oleh para Nabi sesudahnya, sampai nabi terakhir, Muhammad saw. Nabiyulloh Ibrohim a.s. begitu gigih dalam memperjuangkan Tauhid, sampai harus berhadapan dengan keluarganya sendiri dan diusir dari tanah kelahirannya.

Sebagaimana yang lalu-lalu, kita berulangkali mengimbau, kiranya sampeyan berhati-hati dalam menggunakan istilah. Tanpa menggunakan istilah-istilah yang aneh-aneh, kita bisa melakukan dialog dengan kaum Yahudi, Kristen, dan sebagainya. Tidak perlu menjustifikasi hal-hal yang bertentangan secara tegas dengan konsep-konsep dasar Islam. Dalam pandangan Islam, perdamaian dan toleransi adalah penting. Tetapi, Tauhid lebih penting. Karena itulah, Rosululloh saw memilih tidak berdamai dengan paman-pamannya yang menolak Tauhid dan lebih mengutamakan syirik. Ummat Islam menghormati perbedaan. Ummat Islam ingin perdamaian dan toleransi. Ummat Islam siap berdialog dan berdamai. Tetapi, dalam toleransi dan perdamaian itu, perspektif dan posisi Ummat Islam sebagai Manusia yg ber-tauhid harus dinyatakan secara tegas. Justru, toleransi dan perdamaian itu akan terjadi, jika masing-masing pihak memiliki posisi yang jelas. Jika tidak, maka dapat muncul sikap kepura-puraan dan kemunafikan.

Waspadalah ! Virus Sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) siap menjangkitimu ! dan akan merusak Aqidah tauhid-mu !

Wallohu a’lam.

BACA JUGA :

Kerancuan Wacana Agama Samawi

2
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Sunday, January 08, 2012

Thursday, January 5, 2012

Membentengi Islam dari Berbagai Distorsi Pemikiran (Penyesatan Opini)

Ya Ibad ~  Sengaja kami kutipkan kata pengantar Pada Buku Penyesatan Opini ini untuk jamaah Ya Ibad, mengingat:

1. Berbahayanya virus sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) buat akidah Tauhid.

2. Ya Ibad adalah target dan sasaran empuk dalam penyesatan.

3. Ya Ibad adalah tempat yang baik dan subur untuk membiakkan virus sepilis tersebut.

4. Ya Ibad sudah mulai ter-infeksi virus sepilis.
=================
Membentengi Islam dari Berbagai Distorsi Pemikiran

Sejak masuknya sekularisme ke dunia Islam, baik melalui kolonialisme maupun interaksi budaya, dunia pemikiran Islam hampir tak pernah tenang dan tenteram. Polemik dan benturan pemikiran senantiasa mewarnai perjalanan peradaban Islam. Hampir setiap negeri muslim menyimpan sekurang-kurangnya dua kubu pemikiran: kubu Islam dan kubu sekuler.

Di negara-negara Arab, khususnya Mesir, perdebatan dalam bidang pemikiran terkadang sampai ke tingkat yang serius. Dahulu, ada Ali Abdur Raziq, penulis kitab al-Islam wa Ushul al-Hukum. Ia diajukan ke sidang Dewan Guru Besar Al-Azhar, gara-gara karyanya yang menafikan peran politik Rasulullah SAW itu. Ada yang dihukum murtad seperti Hasan Hanafi karena karya-karyanya (semisal Minal Aqidah Ilats Tsaurah) yang melecehkan akidah dan ajaran Islam. Ada pula yang di-fasakh dengan isterinya, seperti Nasr Abu Zeid. Bahkan, ada yang mati tertembak, seperti Faraq Foudah. Hal ini membuktikan betapa sengitnya pertarungan pemikiran di negeri sarang ulama itu.

Bila ditelusuri akar permasalahannya, kita dapat menemukan bahwa ada dua kekuatan besar yang bertarung di panggung pemikiran: Islam dan sekularisme. Islam adalah pemikiran asli pribumi, sedangkan sekularisme adalah pendatang dan sekaligus sebagai penjajah karena datang memang bersamaan dengan kolonial. Pemikiran yang melandasi pola berpikir kaum muslimin seharusnya pemikiran Islam yang mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi, ketika Barat menjajah negeri-negeri Islam, mereka turut menyebarkan paham sekularisme yang merupakan mainstream mereka. Barat mempersiapkan kader-kader yang akan meneruskan pola berpikir sekularisme jika mereka kelak meninggalkan negeri jajahannya. Nah, di sinilah asa muasal percokolan itu terjadi.

Segelintir orang pribumi ada yang terkagum-kagum terhadap paham sekularisme berikut konsep berpikirnya. Mereka ini ibarat duri dalam daging di tubuh ummat Islam. Selama duri masih bersemayam di dalam badan, manusia tidak akan merasa nyaman dan tenteram. Mereka senang melontarkan pendapat-pendapat yang berseberangan dengan Al-Qur’an, Sunnah dan meanstream ulama. Mereka menganggap itu sebagai sebuah kemajuan dan modernisasi seperti yang diajarkan oleh guru-guru mereka di Barat.

Di sisi lain, karena pemerintahan di negeri-negeri Islam didominasi oleh orang-orang cetakan Barat, bertemulah mereka dengan intelektual sekuler tadi dalam pemikiran. Peran pemerintah yang seharusnya menghadang pemikiran sekuler yang datang dari Barat dan yang tumbuh dari dalam oleh murid-murid mereka, justru berbalik memberi angin kepada sekularisme, bahkan turut mendukung secara aktif dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk tampil dan menguasai media massa. Sebagai contoh, mari kita lihat masa kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Selama masa kepemimpinannya, paham dan aliran-aliran sesat tumbuh dengan subur, seolah-olah mendapat angin dan dukungan dari sang pemimpin. Paham Ahmadiyah, Baha’i, Salamullah, Syi’ah, Markisme, sekularisme, dan isme-isme lainnya mendapat kebebasan di era kepemimpinan Gus Dur. Jangankan sekularisme, Tap MPR yang melarang berdirinya partai komunis pun ingin dicabutnya.

Ulama dan kaum intelektual muslim sebagai penjaga benteng pemikiran Islam, tidak boleh berlaku pasif dan menonton. Mereka berkewajiban memelihara kemurnian Islam dan elemen-elemennya dari berbagai penyimpangan dan penafsiran keliru, walaupun kadangkala harus bercokol secara frontal dengan para pendukung liberalisme ini. Semua ini merupakan kewjiban dan tanggung jawab ulama terhadap agamanya. Kalau tidak, Islam akanberubah menjadi bahan permainan yang ditafsirkan seenaknya oleh mereka, sebagaimana halnya agama-agama di luar Islam yang sudah berubah dari wahyu samawi yang sakral menjadi ajang permainan orang-orang “pintar” mereka.

Islam tidak boleh ditafsirkan semaunya dengan mengatasnamakan “modernisasi”, “kebebasan berpikir”, “apresiasi”, dan sejenisnya agar sesuai dengan target dan kepentingan pribadi mereka. Wahyu diturunkan untuk membentuk kehidupan manusia, bukan sebaliknya, wahyu dimodifikasi agar sesuai dengan selera dan kemauan manusia. Manusia harus mendengar apa kata wahyu, bukan wahyu harus mendengar apa maunya manusia.
Dalam pandangan sekuler, Islam harus mengikuti perkembangan manusia. Dalam arti, ajaran-ajaran yang mereka anggap tidak sesuai lagi dan tidak dapat diterapkan di era globalisasi ini, konsekuensinya harus dihilangkan kendati pun itu suatu kewajiban mutlak yang bersifat universal. Atau paling enteng, mereka melakukan takwil (reinterpretasi) terhadap ketentuan Islam agar lebih bisa diterima dan tidak dianggap berseberangan dengan kemauan masyarakat modern. Seperti hukum murtad (keluar dari agama Islam). Kata mereka, hukuman mati untuk orang yang murtad itu tadinya dalam kondisi perang, bukan dalam kondisi damai. Jika dalam kondisi perang, murtad itu dalam bahasa sekarang adalah “pembelotan”. Karenanya, wajar jika dihukum mati. Begitulah mereka (kaum sekularis) membuat takwil seenaknya terhadap ketentuan hukum Islam.

Ulama Vs Kaum Sekuler

Di Mesir, pertarungan pemikiran itu memang terlihat lebih semarak karena ulama di negeri itu betul-betul menampilkan dirinya sebagai pembela Islam, baik yang formal, seperti Al-Azhar, maupun yang individual. Sebagai lembaga yang cukup disegani, Al-Azhar telah lama berjuang menghadang arus sekularisme. Pemikiran yang dilontarkan oleh Thoha Husein mendapat tanggapan serius dari lembaga yang telah berusia seribu tahun ini, baik dalam bentuk bantahan resmi maupun tuntutan kepada pemerintah Mesir agar menarik buku-buku Thaha Husein dari peredaran.

Al-Azhar, melalui badan ilmiahnya yang cukup bergengsi di dunia, Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah (Pusat Penelitian Islam), pernah mengadili Ali Abdur Raziq karena bukunya, al-Islam wa Ushul al-Hukum, yang kontroversial itu dalam sebuah pengadilan yang dihadiri oleh dua puluh ulama lebih. Buku ini pernah membuat geger dunia Arab karena isinya menafikan adanya sistem politik dan pemerintahan dalam Islam. Pengadilan itulah yang memutuskan dicabutnya seluruh ijazah Al-Azhar yang pernah diberikan kepada Ali Abdur Raziq. Yang bersangkutan juga diberhentikan dari jabatannya sebagai hakim di Mahkamah Syari’ah di Mesir. Sampai sekarang, Al-Azhar masih terus memantau kitab-kitab yang ditulis oleh kaum sekuler dan menuntut pemerintah agar melarang peredarannya, termasuk buku-buku Nashr Abu Zeid belakangan ini. Dalam perizinan kitab di Mesir, suara Al-Azhar masih sangat didengar dan mempengaruhi kebijakan pemerintah. Inilah yang terus-menerus diserang oleh orang sekuler agar hak Al-Azhar dalam memberikan ketetapan atas suatu buku harus dicabut.

Nasr Abu Zeid adalah seorang associate frofessor (lektor kepala) di Fakultas Sastra Universitas Kairo. Di jajaran intelektual, dia masih dianggap muda, tetapi ambisi ingin menonjolnya tinggi. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh gurunya, Hasan Hanafi, yang mengajar filsafat di Fakultas Sastra Universitas Kairo. Abu Zeid ingin meraih gelar guru besar. Di perguruan tinggi Mesir, untuk menetapkan seseorang menjadi professor harus dibentuk panitia yang akan menilai karya-karya promovendus. Panitia ini terdiri atas beberapa guru besar dalam bidangnya. Yang menjadi ketua panitia karya-karya Abu Zeid ialah Prof. Abdussobur Shahin dari Fakultas Darul Ulum, Kairo. Setelah melakukan penelitian dan penilaian, Shahin dalam putusannya mengatakan bahwa Abu Zeid tidak layak menjadi guru besar karena karya-karyanya tidak ilmiah. Di sinilah asal muasal kasus Abu Zeid itu mencuat dan menjadi isu nasional bahkan internasional. Tetapi akhirnya, karena jaringan sekularisme di kampus dan di pemerintahan, Nasr Abu Zeid dikukuhkan juga menjadi guru besar.

Ulama tidak kehabisan akal. Ulama Al-Azhar bersama dengan ulama di luar Al-Azhar menempuh jalur hukum. Mereka mengajukan somasi ke pengadilan, dilengkapi dengan data dan fakta ilmiah dari tulisan-tulisan Abu Zeid atas keluarnya dari Islam. Ulama menuntut agar pengadilan memutuskan ia dan isterinya harus dipisah (fasakh). Tuntutan ini dikabulkan dan akhirnya Abu Zeid melarikan diri ke Leiden, Belanda. Di sana, ia diangkat menjadi guru besar Islamic Studies dan membimbing sarjana-sarjana dari Indonesia yang belajar kesana.

Di Indonesia, pertarungan serupa dapat ditemukan di pentas pemikiran, walaupun tidak seseru yang terjadi di Mesir. Tahun 70-an, Nurcholis Madjid telah melemparkan ide sekulernya, lalu ditanggapi oleh sejumlah intelektual muslim semisal: Endang Saifuddin al-Anshari, Prof. H.M. Rasyidi, dan lain-lain. Munawir Sjadzali (mantan menteri agama) pernah melemparkan ide kontroversialnya di seputar hukum waris. Ia dijawab oleh sejumlah kalangan intelektual, seperti Rifyal Ka’bah dan lain-lain. Tahun 1992, Nurcholish kembali melemparkan ide kontroversialnya seputar Ahlul Kitab, makna agama, jilbab, dan ide-ide lainnya. Ia dijawab dengan serentetan reaksi yang cukup keras, mulai dari “mimbar TIM” yang tersohor itu, lalu dilanjutkan di sejumlah media massa. Baru-baru ini (bulam September 2000), Anan Krishna dari kalangan nonmuslim, mengulangi gaya-gaya orang-orang sebelumnya. Ia memberikan “tafsir” seenaknya terhadap ayat Al-Qur’an dan ajaran Islam. Bahkan tidak hanya memberi tafsir, Anand dalam beberapa tulisannya melecehkan ajaran dan hukum syariat, sebuah sikap yang sangat menyinggung perasaan seorang muslim dan tidak dapat dimaafkan begitu saja. Ia mengklaim itu sebagai “apresiasi” terhadap Al-Qur’an. Apa pun namanya, puluhan istilah bisa dibuat, yang jelas, perbuatannya itu adalah membuat pemahaman baru yang menyimpang dan tidak dikenal di kalangan ulama.

Selain Anand, masih banyak lagi orang-orang yang “sakit”, ingin terkenal dan kontroversial akhir-akhir ini. Seandainya ia menyimpan “bibit penyakitnya” itu untuk dirinya sendiri, agaknya kaum muslimin tak terlalu masygul. Akan tetapi, ketika ide itu dipublikasikan di media massa dan disebarluaskan, ini sudah mempunyai arti lain. Mendiamkannya sama saja seperti menyetujui paham yang menyesatkan itu tersebar. Oleh karena itu bagi para cendekiawan muslim yang konsisten mengemban misi menegakkan Dien al-Islam, tidak boleh tinggal diam di dalam menghadapi serangan-serangan pemikiran mereka, kaum sekuler. Dengan demikian, para generasi muda yang sedang giat-giatnya mencari ilmu dan pemahaman agama, tidak kesasar menemukan jalan yang menyimpang dari pemahaman agama para ulama salaf yang lurus.

Sumber Tulisan Diadaptasi dari pengantar buku Penyesatan Opini, Adian Husaini, M.A. oleh Dr. Daud Rasyid, M.A. (2002)

Kunjungi pula : 
1. Ya Ibad Internasional 
2. Facebook Guru Besar Ya Ibad 
3. Ya Ibad di Google Plus
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
Thursday, January 05, 2012
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)
YA IBAD :

About Me

Unknown
View my complete profile

Entri Populer

  • Perang Salib Pertama dan Jatuhnya Yerusalem
    Ya Ibad ~ Ditandai oleh nafsu dunia mulai merasuk jiwa, membutakan hati dan menutup pintu bakti (taqwa), dan ummat mulai menyarungkan pe...
  • Berdakwah Tanpa Ilmu
    Ya Ibad ~ Da’wah harus didahului dengan ilmu, karena siapa yang berda’wah tanpa ilmu maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperba...
  • Sholat Gerhana / Sholat Khusuf
    Ya Ibad ~ Sesuai dengan tuntunan Nabi SAW, umat Islam dianjurkan untuk melakukan shalat sunah gerhana. Selain itu, umat Islam dianjurkan...
  • Serangan Tartar dan Kehancuran Baghdad
    Ya Ibad ~ Baghdad, ibukota kekholifahan Dinasti Abbasiyah akhirnya runtuh ! Dg brutal pasukan Tartar menghancurkan semua sudut kota, me...
  • Memahami Makna Thaghut
    Bismillahirrohmanirrohiim.  Alhamdulillahirrrobbil 'alamiin.  Allohuma sholli 'ala muhammad wa 'ala aali muhammad. Ya ...
  • Tanda-Tanda Mati Syahid Menurut Al Qur'an dan Al Hadist
    Di dalam kitab Ahkamul Janaiz, syaikh Nashiruddin Al Albani, mengumpulkan Tanda-Tanda Mati Syahid dari Al Qur’an dan Sunah shahihah , bel...
  • PENGKHIANAT LICIK NAN CULAS di YA IBAD
    Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Setelah tahmid, tasbih, tahlil dan sholawat, ADA MUNAFIK, PENGKHIANAT LICIK NAN CULAS ...
  • Tauhid Menolak Sekularisme
    Jamaah Ya Ibad yang saya hormati, tetaplah zikrulloh dan husnuzhon (berprasangka baik) kepada Alloh. Salah satu Isme yang wajib dito...

Labels

  • Syariat
  • BukaMata
  • Tauhid
  • Mujahadah
  • Dakwah Wal Jihad
  • Hisbah
  • Thoghut
  • Tokoh
  • TazkiyatunNafs
  • Meluruskan
  • Sepilis
  • Sekulerisme
  • Konsultasi Spiritual
  • Liberalisme
  • Pluralisme
  • Download
  • Buku Tamu
  • Mukadimah
  • Muktamar Ya Ibad
  • Ya Ibad

Kirim Pertanyaan - Konsultasi

Name

Email *

Message *

Copyright 2013 Ya Ibad - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates